Total Tayangan Laman

Rabu, 07 Maret 2012

AHLUS SUNNAH MENGIMANI ADANYA SYAFAAT

Ahlus Sunnah mengimani adanya syafa’at pada hari Kiamat. Syafa’at menurut bahasa (etimologi) berarti menggenapkan, menggabungkan atau mengumpulkan sesuatu dengan sejenisnya. Syafa’at juga berarti wasilah (perantara) dan thalab (permintaan).

Syafa’at menurut istilah (terminologi) berarti:

اَلتَّوَسُّطُ لِلْغَيْرِ بِجَلْبِ مَنْفَعَةٍ أَوْ دَفْعِ مَضَرَّةٍ.

“Menjadi perantara bagi orang lain dengan tujuan mengambil manfaat atau menolak bahaya.” [1]

Syarat diberikannya syafa’at ada dua, yaitu:

Pertama: Izin Allah kepada pemberi syafa’at.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Allah, tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, Yang Mahahidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa seizin-Nya...” [Al-Baqarah: 255]

Kedua: Ridha Allah kepada yang memberi dan yang diberikan syafa’at.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ

“...Dan mereka tidak memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah...” [Al-Anbiyaa’: 28]

Orang yang paling bahagia dengan mendapat syafa’at Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang mengucapkan kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (tidak ada sesembahan yang diibadahi dengan benar selain Allah) dengan ikhlas dari hatinya.[2]

Adapun orang kafir, mereka tidak akan mendapatkan syafa’at.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَمَا تَنفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ

“Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at (pertolongan) dari orang-orang yang memberikan syafa’at.” [Al-Mud-datstsir: 48]

Begitu pula bagi orang yang berbuat syirik, mereka tidak mendapatkan syafa’at. [3]

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam pada hari Kiamat memiliki tiga macam syafa’at: [4]

Syafa’at pertama : Yaitu asy-syafaa’atul ‘uzhmaa (syafa’at yang agung), yaitu syafa’at yang beliau berikan kepada ummat manusia di Mauqif (saat kritis), ketika manusia seluruhnya dikumpulkan Allah di padang Mahsyar. Matahari didekatkan kepada mereka (dengan jarak satu mil), sehingga mereka berada dalam keadaan susah dan sedih yang luar biasa. Pada saat seperti itu, mereka mendatangi Nabi Adam, kemudian Nuh, Ibrahim, Musa, lalu ‘Isa bin Maryam untuk meminta syafa’at, namun mereka semua menolak-nya. Dan terakhir kalinya mereka datang kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, untuk meminta syafa’at darinya, maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam -dengan izin Allah Azza wa Jalla- memberikan syafa’at kepada ummat manusia, agar mereka diberi keputusan. [5]

Syafa’at kedua : Yaitu syafa’at yang beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berikan kepada para ahli Surga untuk memasuki Surga. Kedua syafa’at tersebut adalah khusus bagi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. [6]

Syafa’at ketiga : Yaitu syafa’at yang diberikan kepada orang-orang yang berhak masuk Neraka. Syafa’at ini untuk Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, para Nabi, para shiddiqin, dan yang lain dari kalangan kaum Mukminin.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam akan memberi syafa’at kepada orang yang semestinya masuk Neraka untuk tidak masuk Neraka, serta memberi syafa’at kepada orang yang sudah masuk Neraka untuk dikeluarkan dari api Neraka.

Syafa’at Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah untuk pelaku dosa besar dari ummat Islam seperti sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

شَفَاعَتِي ِلأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِي.

“Syafa’atku akan diberikan kepada pelaku dosa besar dari ummatku.” [7]

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata, “Al-Hafizh Ibnu Katsir dan pensyarah kitab al-‘Aqiidatuth Thahaawiyyah berkata: ‘Tujuan para ulama Salaf membatasi bahasan tentang syafa’at dengan hanya diberikan kepada orang-orang yang berbuat dosa besar adalah sebagai bantahan terhadap Khawarij dan yang mengikuti mereka dari firqah Mu’tazilah.” [8]

Syafa’at ini diingkari oleh Khawarij dan Mu’tazilah karena mereka meyakini bahwa orang yang berbuat dosa besar akan kekal dalam Neraka dan tidak bisa keluar, baik dengan adanya syafa’at maupun yang lainnya. Pendapat mereka tersebut adalah pendapat yang sesat dan menyesatkan, karena hadits-hadits tentang syafa’at adalah mutawatir.

Allah Azza wa Jalla mengeluarkan dari Neraka beberapa kaum tanpa melalui syafa’at, akan tetapi berkat karunia dan rahmat-Nya. [9]

Surga yang luasnya seluas langit dan bumi setelah dimasuki orang-orang dari dunia tidak akan penuh, maka Allah Azza wa Jalla menciptakan beberapa kaum, lalu Allah Azza wa Jalla masukkan mereka ke dalam Surga dengan rahmat-Nya. [10]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
_______
Footnote
[1]. Syarah Lum’atil I’tiqaad (hal. 128) oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin.
[2]. HR. Al-Bukhari (no. 99, 6570) dan Ahmad (II/373), dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[3].Syarah Lum’atil I’tiqaad (hal. 128) dan at-Tauhiid lish Shaffits Tsaani al-‘Aaly (hal. 99).
[4]. Syarhul ‘Aqiidah al-Waasithiyyah (II/169) oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.
[5]. HR. Al-Bukhari (no. 4712) dan Muslim (no. 194) dari Sahabat Abu Hurairah.
[6]. Syarhul ‘Aqiidah al-Waasithiyyah (hal. 217) oleh Khalil Hirras.
[7]. HR. Abu Dawud (no. 4739), at-Tirmidzi (no. 2435), Ibnu Hibban dalam Mawaa-riduzh Zham’aan (no. 2596), Shahiih Mawaaridihz Zham’aan (no. 2197), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 832), Ahmad (III/213) dan al-Hakim (I/69), dari Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu dan at-Tirmidzi berkata bahwa hadits ini hasan shahih.
[8]. Lihat Syarah Lum’atil I’tiqaad (hal. 129), oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin
[9]. HR. Al-Bukhari (no. 7439) dan Muslim dalam Kitaabul Iimaan (no. 183 (302)), dari Sahabat Abu Sa‘id al-Khudri Radhiyallahu anhu.
[10]. HR. Al-Bukhari (no. 7384) dan Muslim (no. 2848 (38)), dari Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu. Lihat Syarhul ‘Aqiidah al-Waasithiyyah (II/179-180) oleh Syaikh Mu-hammad bin Shalih al-‘Utsaimin.


Ketiga puluh delapan:
AHLUS SUNNAH MENGIMANI ADANYA SURGA DAN NERAKA

Sesungguhnya Surga dan Neraka sudah diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla. Keduanya adalah makhluk yang kekal abadi tidak akan binasa. Surga disediakan bagi wali-wali Allah yang ber-takwa sedangkan Neraka adalah hukuman bagi orang yang bermaksiat kepada-Nya kecuali yang mendapatkan rahmat-Nya. Kenikmatan Surga tidak dapat dibayangkan oleh manusia, begitu pula siksa Neraka merupakan siksa yang besar, sangat dahsyat dan sangat mengerikan. Ahlus Sunnah wal Jama’ah telah sepakat bahwa Surga dan Neraka adalah makhluk Allah yang sudah di-ciptakan. Kemudian timbul firqah Mu’tazilah dan Qadariyah yang mengingkari pendapat itu. Mereka berpendapat bahwa keduanya (Surga dan Neraka) akan diciptakan Allah pada hari Kiamat nanti. Pendapat tersebut jelas sesat karena mengingkari dalil-dalil yang sudah jelas.[1]

Ayat-ayat Al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa Surga telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ dan Neraka telah disediakan untuk orang-orang kafir أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِيْنَ . Ini menunjukkan bahwa Surga dan Neraka sudah diciptakan.

Mengenai Surga, Allah Ta’ala berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabb-mu dan mendapatkan Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.” [Ali ‘Imran: 133]

Dan mengenai Neraka, Allah Ta’ala berfirman:

وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

“Dan peliharalah dirimu dari api Neraka, yang telah disediakan bagi orang-orang kafir.” [Ali ‘Imran: 131]

Ayat-ayat yang menjelaskan bahwa orang yang masuk Surga akan kekal di dalamnya selama-lamanya, di antaranya:

Firman Allah Ta’ala:

جَزَاؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا

“Balasan mereka di sisi Rabb mereka adalah Surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya...” [Al-Bayyinah: 8]

Sedangkan di antara ayat-ayat yang menjelaskan tentang kekalnya orang-orang kafir di dalam Neraka adalah firman Allah Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيرًا خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ لَّا يَجِدُونَ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah melaknat orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api (Neraka) yang menyala-nyala, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, mereka tidak memperoleh pelindung pun dan tidak (pula) penolong.” [Al-Ahzaab: 64-65]

Orang kafir dan munafik akan masuk ke dalam Neraka dan kekal di dalamnya selama-lamanya. Adapun ummat Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yang masuk Neraka dengan sebab perbuatan dosa-dosa besar dan maksiat yang mereka perbuat, maka mereka tidaklah kekal di dalam Neraka. Mereka akan keluar dari Neraka dengan rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala dan syafa’at Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

يَخْرُحُ مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِيْ قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنَ اْلإِيْمَانِ.

“Akan keluar dari Neraka orang yang di dalam hatinya masih ada seberat dzarrah dari iman.” [2]

Juga sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam:

لَيَخْرُجَنَّ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِيْ مِنَ النَّارِ بِشَفَاعَتِيْ يُسَمَّوْنَ الْجَهَنَّمِيُّوْنَ.

“Sungguh satu kaum dari ummatku akan keluar dari Neraka dengan sebab syafa’atku, mereka disebut jahannamiyyun (para mantan penghuni Neraka Jahannam).” [3]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
_______
Footnote
[1]. Lihat penjelasan ini dalam Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 420-431) tahqiq dan takhrij Syaikh al-Albani dan Syarah Lum’atil I’tiqaad (hal. 131-133) oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin.
[2]. HR. At-Tirmidzi (no. 2598) dan Ahmad (III/94), dari Sahabat Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu. At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.”
[3]. HR. At-Tirmidzi (no. 2600) dari Sahabat ‘Imran bin Hushain Radhiyallahu anhu. At-Tirmi-dzi berkata: “Hadits ini hasan shahih.”


Ketiga puluh sembilan:
AHLUS SUNNAH MENGIMANI BAHWA SETELAH MANUSIA MASUK SURGA DAN MASUK NERAKA TIDAK ADA LAGI KEMATIAN

Ahlus Sunnah mengimani bahwa setelah manusia masuk Surga atau masuk Neraka tidak ada lagi kematian. Kematian adalah masalah maknawi yang tidak bisa dilihat dengan indera. Namun di akhirat, Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikannya sebagai sesuatu yang berbentuk kambing dan dapat dilihat oleh indera, kemudian disembelih di antara Surga dan Neraka, lalu dikatakan:

...يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ خُلُوْدٌ فَلاَ مَوْتَ، وَيَا أَهْلَ النَّارِ خُلُوْدٌ فَلاَ مَوْتَ.

“...Wahai penghuni Surga, kalian kekal (selamanya) dan tidak akan mati. (Demikian pula kepada penghuni Neraka), Wahai penghuni Neraka kalian kekal dan tidak akan mati.” [1]

Rangkaian peristiwa yang terjadi di akhirat, seperti hisab, pemberian pahala, siksaan, Surga, Neraka, dan rincian semua hal itu sudah disebutkan dalam kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah, serta disebutkan dalam riwayat-riwayat yang diwariskan oleh para Nabi, sedangkan yang terkandung dalam Sunnah yang diwariskan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang masalah ini sudah cukup serta memadai. Siapa yang mencarinya (mempelajarinya), ia pasti akan mendapatkannya. [2]

Beriman kepada hari Akhir, yaitu hari dibangkitkannya semua makhluk dan apa yang terjadi padanya akan mengingatkan seorang Mukmin bahwa ia akan kembali kepada Allah, maka ia berusaha untuk melakukan amal yang terbaik dengan ikhlas dan ittiba’ didasari dengan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya serta menumbuhkan raja’ (harapan) kepada rahmat Allah dan khauf (takut) terhadap siksa Allah, dan selalu bertaubat dari segala dosa.

Allah Ta’ala menegaskan penyebutan tentang hari Akhir di dalam Kitab-Nya, mengulang-ulang penyebutannya di setiap tempat, mengingatkan atasnya dalam setiap saat dan menegaskan kejadiannya, banyak menyebutkannya, dan mengaitkan bahwa keimanan kepada hari Akhir berkaitan erat dengan keimanan kepada Allah Ta’ala.

Dia Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

“Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur-an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturun-kan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” [Al-Baqarah: 4]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
_______
Footnote
[1]. HR. Al-Bukhari, Kitaabut Tafsiir (no. 4730), dari Abu Sa’id al-Khudri .
[2]. At-Tanbiihatul Lathiifah (hal. 74) dan Syarhul ‘Aqiidah al-Waasithiyyah (II/182). Bagi yang ingin membaca dengan lengkap silakan baca Shahiihul Bukhari: Kitaabur Riqaaq, Shahiih Muslim: Kitaabul Iimaan dari bab 80, Kitaabul Jannah dengan semua babnya, Sunan Abi Dawud: Kitaabus Sunnah dan Sunan at-Tirmidzi: Kitaab Shifaatil Qiyaamah dengan semua babnya, dan yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar