Total Tayangan Laman

Selasa, 07 Februari 2012

Hukum Wudhu di Kamar Mandi




Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin, washshalaatu wassalaamu ‘alaa rasulillaah khairil anbiyaa’I wal mursaliin wa ‘alaa ‘aalihii wa shahbihii ajma’iin. Amma ba’du:
Boleh berwudhu di dalam kamar mandi, apabila aman dari percikan najis.
Komite tetap Untuk riset ilmiyah dan fatwa Kerajaan Arab Saudi mengatakan,
إذا وضع حائل بين الماء الذي ينزل من الصنبور وبين محل النجاسة بحيث إن الماء إذا نزل على الأرض تكون هذه الأرض طاهرة فلا مانع من الوضوء والاستنجاء
“Apabila ada batas antara keran air dengan tempat najisnya sehingga air turun ke tempat yang suci maka tidak mengapa berwudhu dan istinja’ (di dalam kamar mandi tersebut).” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daaimah, 5:86)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu mengatakan,
يجوز الوضوء في الحمام ولا حرج فيه ولكن ينبغي للإنسان أن يتحفظ من إصابة النجاسة له فإذا تحفظ من ذلك فليتوضأ في أي مكان كان
“Boleh berwudhu di kamar mandi dan tidak masalah, akan tetapi hendaknya menjaga diri dari terkena najis, apabila bisa terjaga dari najis maka silakan dia berwudhu dimana saja” [1]
Beliau rahimahullahu juga berkata,
يجوز للإنسان أن يتوضأ في المكان الذي تخلى فيه من بوله أو غائطه لكن بشرط أن يأمن من التلوث بالنجاسة بأن يكون المكان الذي يتوضأ فيه جانباً من الحمام بعيداً عن مكان التخلي أو ينظف المكان الذي ينزل فيه الماء من الأعضاء في الوضوء حتى يكون طاهراً نظيفاً
“Boleh bagi seseorang berwudhu di tempat dia buang air kecil dan buang air besar, dengan syarat aman dari percikan najis, yaitu tempat wudhunya jauh dari tempat buang air, atau dibersihkan dahulu tempat turunnya air dari anggota badan sehingga menjadi bersih dan suci.” [2]
Hukum Membaca Dzikir di Kamar Mandi
Membaca dzikir di kamar mandi makruh, karena berbicara di dalam kamar mandi hukumnya makruh dan membaca dzikir termasuk berbicara. Demikian pula kita diperintahkan untuk mengagungkan syiar-syiar Allah dan di antara bentuk pengagungan adalah berdzikir di tempat yang suci bukan di tempat yang kotor dan tempat buang hajat.
Allah Ta’ala berfirman,
ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ (32) [الحج/32]
Demikianlah (perintah Allah) dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu termasuk ketakwaan hati. (QS. 22:32)”
Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata,
يكره أن يذكر الله وهو جالس على الخلاء
“Dibenci berdzikir mengingat Allah padahal dia dalam keadaan duduk di dalam jamban.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1:209 no.1227, dengan sanad yang hasan)
Abu Wa’il rahimahullahu juga berkata,
اثنان لا يذكر الله العبد فيهما إذا أتى الرجل أهله يبدأ فيسمي الله وإذا كان في الخلاء
“Dua keadaan dimana seorang hamba tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, (pertama) ketika seorang laki-laki mendatangi istrinya, maka hendaklah dia mulai dengan menyebut nama Allah, (kedua) apabila dia berada di jamban.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1:209 no.1229 ,dengan sanad yang shahih)
Abu Ishaq As-Sabii’iy rahimahullah juga berkata,
ما أحب أن أذكر الله إلا في مكان طيب
“Aku tidak senang berdzikir kepada Allah kecuali di tempat yang baik.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1:210 no.236, dengan sanad yang shahih)
Namun kemakruhan ini bisa gugur apabila ada hajat atau keperluan, seperti mengucap tahmid ketika bersin, mengucap tasmiyyah sebelum wudhu. Berikut ini adalah sebagian ucapan salaf yang menunjukkan bolehnya berdzikir di jamban apabila diperlukan.
Manshur bin Mu’tamir rahimahullah mengtakan,
وسألته عن الرجل يعطس على الخلاء قال يحمد الله فإنها تصعد
“Dan aku bertanya kepada Ibrahim (An-Nakha’iy) tentang seseorang yang bersin ketika buang air?” Beliau menjawab, ‘Hendaknya dia memuji Allah (yaitu mengucapkan Alhamdulillah) karena tahmid itu akan naik’.” (Dikeluarkan oleh Abdurrazzaq di dalam Al-Mushannaf 2:455 no.4063, dengan sanad yang shahih, dan juga Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1:210 no.1233)
Dari Sya’bi rahimahullahu, beliau ditanya tentang seseorang yang bersin di jamban, maka beliau berkata: يحمد الله
“Hendaklah dia memuji Allah”. (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1/210 no:1232, dengan sanad yang shahih)
Dari Muhammad bin Sirin rahimahullahu beliau berkata
لا أعلم بأسا بذكر الله
“Aku tidak memandang adanya masalah dalam dzikrullah (di jamban).” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1/210 no:1235, dengan sanad yang shahih)
Dan inilah yang difatwakan oleh sebagian ulama kita, Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,
لا بأس أن يتوضأ داخل الحمام إذا دعت الحاجة إلى ذلك ، ويسمي عند أول الوضوء ، يقول : (بسم الله) لأن التسمية واجبة عند بعض أهل العلم ، ومتأكدة عند الأكثر ، فيأتي بها وتزول الكراهة لأن الكراهة تزول عند الحاجة إلى التسمية ، والإنسان مأمور بالتسمية عند أول الوضوء ، فيسمي ويكمل وضوؤه
“Tidak mengapa berwudhu di dalam kamar kecil apabila memang diperlukan, dan mengucap tasmiyah di awal wudhu seraya mengucapkan “Bismillah” karena tasmiyyah wajib menurut sebagian ulama, dan dikuatkan menurut sebagian besar ulama. Oleh karena itu, hendaknya seseorang mengucapkan tasmiyyah ini yang hilang kemakruhannya karena dibutuhkan mengucapkannya. Seseorang diperintah untuk tasmiyyah di awal wudhu, maka hendaknya dia bertasmiyyah dan menyempurnakan wudhunya.” (Majmu Fataawa Syeikh Abdul Aziz bin Baz, 10:28)
Dalam Fatawa Al-Lajnah Ad-Daaimah:
يكره أن يذكر الله تعالى نطقاً داخل الحمام الذي تقضى فيه الحاجة تنزيهاً لاسمه واحتراماً له لكن تشرع له التسمية عند بدء الوضوء لأنها واجبة مع الذكر عند جمع من أهل العلم
“Dimakruhkan dzikrullah dengan lisan di dalam jamban yang digunakan untuk buang hajat, sebagai penyucian dan penghormatan terhadap nama Allah, akan tetapi disyariatkan tasmiyyah (membaca: bismillah) ketika di awal wudhu karena ini wajib ketika ketika ingat menurut sebagian ulama.” (Fataawaa Al-Lajnah Ad-Daimah, 5:94)
Melirihkan Dzikir Di Kamar Mandi
Perlu diketahui bahwasanya di antara adab berdzikir di kamar mandi/wc/jamban adalah memelankan suara dzikir.
Dari Al-Hasan Al-Bashry rahimahullah beliau berkata tentang seseorang yang bersin di dalam jamban:
يحمد الله في نفسه
“Hendaknya dia memuji Allah dengan di dalam dirinya (yaitu pelan).” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf, 1:210 no.1234, dengan sanad yang shahih)
Hushain bin Abdurrahman rahimahullahu berkata,
انتهينا إلى الشعبي وهو مغضب، فقيل له: ما لك يا أبا عمرو ؟ فقال : إن هذا المارق ، يعني داود بن يزيد الأودي، سألني عن الرجل يعطس في الخلاء، قلت : فما تقول يا أبا عمرو ؟ قال : يحمد الله في نفسه
“Kami mendatangi Asy-Sya’by sedangkan beliau dalam keadaan marah, maka beliau ditanya, “Ada apa wahai Abu ‘Amr?”
Beliau berkata, “Sesungguhnya orang yang maariq ini –maksudnya Dawud bin Yazid Al-Audy-, telah bertanya kepadaku tentang seseorang yang bersin di tempat buang hajat. Aku berkata, “Lalu apa yang kamu katakan wahai Abu ‘Amr?”
Beliau menjawab, “Hendaklah dia memuji Allah di dalam dirinya ( yaitu dengan pelan).” (Dikeluarkan oleh Al-’Uqaily dalam Adh-Dhu’afa, 2:391, dengan sanad yang shahih)
Perkataan mereka
يحمد الله في نفسه
(Memuji Allah di dalam dirinya) ada dua kemungkinan, memuji Allah di dalam hati atau memuji Allah dengan lisan secara pelan, sebagaimana dijelaskan Syaikhul Islam dalam Al-Fatawa Al-Kubra, 5:301.
Makna eksplisit dari atsar sebagian salaf di atas –wallahu a’lam- adalah berdzikir dengan lisan bukan hanya dengan hatinya.
Akhir kata, tentunya lebih baik apabila seseorang di dalam rumahnya memiliki tempat wudhu khusus yang berada di luar kamar mandi/jamban/wc.
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar