Total Tayangan Laman

Minggu, 05 Februari 2012

KESALAHAN DALAM DOA DAN DZIKIR



1.Pertanyaan:Apa hukum berkumpul untuk berdzikir bersama-sama dengan ucapan Allah-Allah atau Hu-Hu?
Jawaban:Akidah Tijaniyah ini termasuk akidah bid`ah dan tarekat yang mungkar.Didalamnya banyak terkandung kemungkaran,bid`ah,perbuatan-perbuatan syirik yang harus ditinggalkan.Tidak boleh ada yang diambil darinya kecuali yang sesuai dengan syariat yang suci yang diajarkan oleh Nabi kita,Nabi Muhammad saw.
Berkumpul-kumpul untuk berdzikir secara bersama-sama tidak ada dasarnya dalam syariat,begitu pula ucapan Allah-Allah atau Hu-Hu,adapun dzikir yang disyariatkan  adalah ucapan Lailahaillallah,ini dzikir yang syar`I atau ucapan Subahanallah,Alhamdulillah,Allahu Akbar,La haula wa la quwwata illa billah,Astaghfirullah,Allahummaghfir li.Adapun berkumpul dengan satu suara mengucapkan La ilaha Illallah”atau Allah Allah atau Hu Hu tidak ada dasarnya,bahkan merupakan bid`ah yang diada-adakan.Seharusnya kaum Muslimin meninggalkan bid`ah,karena Rasulullah saw telah bersabda:
“Barang siapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan,maka hal itu tertolak.(HR.Muslim dari Aisyah).
Rasulullah saw bersabda:Amma ba`d:Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitabullah dan sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad saw,sementara seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru yang diada-adakan,dan setiap bid`ah adalah sesat.(HR.Muslim dari Jabir r.a.)
Rasulullah saw bersabda:Jauhilah oleh kalian hal-hal yang baru (yang diada-adakan dalam perkara agama),karena setiap bid`ah  (hal baru) itu adalah kesesatan.
Hendaklah kaum Muslimin waspada terhadap hal-hal yang baru didalam agama,karena itu merupakan suatu bid`ah yang sesat yang akan menjerumuskan kita kedalam neraka.Hendaklah kita berpegang teguh dengan apa yang telah disyariatkan Allah melalui lisan Nabi dan Rasul-Nya saw.
2.Pertanyaan:Apa hukum berkumpul untuk membaca wirid pagi dan sore?
Jawaban:Ada dzikir-dzikir dan doa-doa yang berasal dari Rasulullah saw yang biasa beliau baca dan berdoa dengannya pada pagi dan sore hari,yang beliau baca sendirian.Hal itu didengar oleh para sahabatnya dan mereka mempelajarinya lalu mereka pun berdzikir dan berdoa pada pagi dan sore hari dengan dziikir-dzikir dan doa-doa tersebut.Masing-masing mereka berdzikir sendiri-sendiri seperti halnya Rasulullah saw.Tidak ada riwayat yang bersumber dari Nabi saw dan tidak pula dari sahabatnya bahwa mereka mengucapkan dzikir-dzikir dan doa-doa dengan cara berkumpul dan dibaca secara bersama-sama atau dibacakan oleh sebagian mereka sementara yang lainnya mendengarkan.
Karena itu hendaknya seorang Muslim mengikuti tuntunan Rasulullah saw dan para sahabatnya dalam berdzikir dan berdoa berikut juga caranya,juga dalam segala sesuatu yang disyariatkan oleh Nabi saw,Karena kebaikan itu adalah mengikuti  beliau,sementara keburukan adalah menyelisihinya.Adapun berkumpul untuk berdzikir dan menjadikannya sebagai cara (ajaran) dan tradisi.maka hal ini adalah bid`ah yang diada-adakan.Rasulullah saw bersabda:
“Barang siapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan,maka hal itu tertolak.(HR.Muslim dari Aisyah).
Rasulullah saw bersabda:Amma ba`d:Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitabullah dan sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad saw,sementara seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru yang diada-adakan,dan setiap bid`ah adalah sesat.(HR.Muslim dari Jabir r.a.)
Rasulullah saw bersabda:Jauhilah oleh kalian hal-hal yang baru (yang diada-adakan dalam perkara agama),karena setiap bid`ah  (hal baru) itu adalah kesesatan.(HR.At-Tirmidzi).
3.Pertanyaan:Apa hukum membaca Shalawat kepada Nabi saw secara bersama-sama setelah shalat?
Jawaban:Dzikir atau Shalawat kepada Nabi saw yang diucapkan secara bersama-sama setelah selesai shalat fardhu atau setelah shalat sunnah atau setiap usai shalat tarawih adalah bid`ah yang diada-adakan.Rasulullah saw bersabda:
“Barang siapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan,maka hal itu tertolak.(HR.Muslim dari Aisyah).
Rasulullah saw bersabda:Amma ba`d:Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitabullah dan sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad saw,sementara seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru yang diada-adakan,dan setiap bid`ah adalah sesat.(HR.Muslim dari Jabir r.a.)
Rasulullah saw bersabda:Jauhilah oleh kalian hal-hal yang baru (yang diada-adakan dalam perkara agama),karena setiap bid`ah  (hal baru) itu adalah kesesatan.
4.Pertanyaan:Apa hukum duduk melingkar kemudian bertahlil dan beristighfar serta bershalawat kepada Nabi saw secara berjamaah?
Jawaban:Hal inbi adalah bid`ah yang diada-adakan didalam agama.Rasulullah saw tidak pernah mengerjakan dzikir secara berjamaah dengan duduk melingkar dan tidak pula dilakukan oleh sahabatnya.Tidak ada satu pun hadits yang menerangkan tentang hal ini,maka selayaknya kita meninggalkan sesuatu hal yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah saw.Tentang cara berdzikir seperti ini pernah diingkari oleh Abdullah bin Mas`ud r.a.Maka hendaklah kita meninggalkan perbuatan tersebut atau yang serupa dengan nya.Sementara Rasulullah saw bersabda:
“Barang siapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan,maka hal itu tertolak.(HR.Muslim dari Aisyah).
Rasulullah saw bersabda:Amma ba`d:Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitabullah dan sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad saw,sementara seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru yang diada-adakan,dan setiap bid`ah adalah sesat.(HR.Muslim dari Jabir r.a.)
Rasulullah saw bersabda:Jauhilah oleh kalian hal-hal yang baru (yang diada-adakan dalam perkara agama),karena setiap bid`ah  (hal baru) itu adalah kesesatan.(HR.At-Tirmidzi).
5.Pertanyaan:Apa hukum berdzikir dengan mengayunkan badan kekiri dan kekanan?
Jawaban:Perbuatan ini adalah perbuatan orang-orang Sufi yang mereka apabila mereka berdzikir selalu mengoyang-goyangkan badan nya kekiri dan kekanan,Sementara Rasulullah saw tidak pernah mengajarkan hal itu kepada kita dan Rasulullah saw pun tidak pernah melakukan hal itu.Maka selayaknya kita meninggalkan suatu perbuatan yang tidak ada dasarnya dari syariat yang suci.Perbuatan ini termasuk dalam kategori bid`ah yang wajib diingkari dan ditinggalkan.Jikalau seseorang hendaklah ia berdzikir dengan khusyu dan merendahkan diri dan tidak dengan mengeraskan suara,sebagaimana Firman Allah Swt:
“Dan sebutlah nama tuhanmu dalam hatimu dengan berendah diri dan rasa takut (akan siksaannya) dan tidak dengan mengeraskan suara.(QS.Al-A`raf:205).
Adapun dengan berdzikir dengan menggoyangkan badan kekanan dan kekiri adalah suatu bid`ah yang wajib ditinggalkan.Rasulullah saw bersabda:
“Barang siapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan,maka hal itu tertolak.(HR.Muslim dari Aisyah).
Rasulullah saw bersabda:Amma ba`d:Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitabullah dan sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad saw,sementara seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru yang diada-adakan,dan setiap bid`ah adalah sesat.(HR.Muslim dari Jabir r.a.)
Rasulullah saw bersabda:Jauhilah oleh kalian hal-hal yang baru (yang diada-adakan dalam perkara agama),karena setiap bid`ah  (hal baru) itu adalah kesesatan.(HR.At-Tirmidzi).
6.Pertanyaan:Apa hukum Bersujud setelah menyebut nama Allah?
Jawaban:Ini adalah bid`ah yang diada-adakan didalam agama,tidak ada riwayat dari Rasulullah saw dan dari sahabatnya apabila beliau menyebut nama Allah beliau langsung bersujud,dan begitu juga dengan sahabatnya.Jikalau itu disyariatkan pastilah beliau lebih dulu melakukannya dari pada kita.
7.Pertanyaan:Apa hukum membaca al-Fatihah setelah selesai berdoa?
Jawaban:Membaca al-Fatihah setelah selesai berdoa adalah bid`ah yang diada-adakan,Rasulullah saw dan sahabatnya tidak pernah membaca surat al-Fatihah sewaktu beliau selesai berdoa,dan hal ini tidaklah disyariatkan malah wajib ditinggalkan dan diingkari.Keselamatan hanya ada mengikuti jejak Rasulullah dan meninggalkan apa-apa yang tidak beliau kerjakan.Allah Swt berfirman:
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia.Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.(QS.Al-Hasyr:7)
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.(QS.An-Nur:63).
8.Pertanyaan:Apa hukum berlebih-lebihan sewaktu berdoa?
Jawaban:Kebiasaan orang pada umumnya mereka terlalu berlebih-lebihan sewaktu berdoa,sewaktu mereka berdoa mereka ada yang menangis seperti berteriak,ada yang seperti orang kesuruoan sewaktu berdoa,sementara Rasulullah saw tidak berlebih-lebihan dalam berdoa,dan Rasulullah saw pun tidak mengajarkan kepada ummatnya untuk berlebih-lebihan dalam berdoa bahkan Rasululalh saw melarang berlebih-lebihan dalam berdoa.Sebagaimana sabdanya:
“Akan ada sekelompok orang yang berlebih-lebihan dalam berdoa.(HR.Abu Dawud,Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).
Rasulullah saw bersabda:Janganlah berlebih-lebihan dalam berdoa.(Al Hadits).
Hendaklah apabila kita berdoa jangan terlalu berlebih-lebihan,cukup diucapkan didalam hati saja dan tidak perlu dengan mengeraskan suara.

9.Pertanyaan:Apa hukum berdoa dengan mengeraskan suara?
Jawaban:Perbuatan ini banyak kita lihat dan dengar yang dilakukan oleh orang-orang yang jahil dan bodoh yang tidak mengerti dengan sunnah,terutama setelah shalat fardhu biasanya orang berdoa secara bersama-sama dengan mengeraskan suara.Sungguh apa yang mereka lakukan tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah saw,Rasulullah saw mengajarkan kepada kita hendaklah sewaktu berdoa tidak dengan mengeraskan suara dan tidak dengan berjamaah,tetapi dilakukan dengan suara yang lembut dan berdoa secara masing-masing tidak dengan berjamaah.Sementara Allah Swt berfirman:
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara lembut.Sesungguhnya Ia tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.(QS.Al-A`raaf:205).
Adapun yang dilakukan oleh kebanyakan orang sewaktu berdoa dengan mengeraskan suara adalah bid`ah yang wajib diingkari.Rasulullah saw bersabda:
“Barang siapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan,maka hal itu tertolak.(HR.Muslim dari Aisyah).
Rasulullah saw bersabda:Amma ba`d:Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitabullah dan sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad saw,sementara seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru yang diada-adakan,dan setiap bid`ah adalah sesat.(HR.Muslim dari Jabir r.a.)
Rasulullah saw bersabda:Jauhilah oleh kalian hal-hal yang baru (yang diada-adakan dalam perkara agama),karena setiap bid`ah  (hal baru) itu adalah kesesatan.(HR.At-Tirmidzi).
10.Pertanyaan:Apa hukum mengucapkan Alhamdulillah setelah sendawa dan Berta`awwudz setelah menguap?
Jawaban:Orang awam,bila bersendawa ada yang mengucapkan,Alhamdulillah,padahal tidak ada riwayat yang menunjukkan bahwa sendawa menuntut ucapan hamdalah.Begitu pula bila menguap ada yang mengucapkan,a`udzu billahi minasy syaithhanir rajim,Semua ini tidak ada dalilnya,tidak pernah disebutkan bahwa Nabi saw melakukan itu.Bila ada yang mengatakan,”Bukankah sendewa itu suatu nikmat,sementara itu menjadi hak Allah untuk dipuji?Kami jawab:Memang benar itu nikmat,tapi tidak ada contoh seperti itu dari Nabi saw bahwa beliau mengucapkan hamdalah ketika sendawa.Jika hal itu tidak dicontohkan berarti tidak disyariatkan.Demikian berdasarkan kaidah yang dikenal oleh para ulama,yaitu bahwa segala sesuatu yang ditemukan penyebabnya pada masa Rasulullah saw namun beliau tidak melakukannya,maka itu bukan sunnah,karena perbuatan Rasulullah saw adalah sunnah.Sementara meninggalkannya (hal yang tidak dilakukan oleh Rasulullah saw) hendaklah kita tidak melakukannya.
Sementara dalam masalah menguap Rasulullah saw tidak memerintahkan kita untuk membaca ta`awwudz Rasulullah saw hanya memerintahkan kepada kiat apabila kita menguap hendaklah kita menahan seberapa kita bias,apabila kita tidak mampu menahannya hendaklah kita menutup mulut kita dengan kita.Sebagaimana sabda Rasulullah saw:
“Menguap itu berasal dari setan.Maka jika salah seorang kalian menguap,hendaklah menahannya semampunya.Bila tidak mampu,maka hendaklah menutupkan tangannya kemulutnya.(HR.Bukhari).
Adapun jika orang mengatakan bukankah Allah memerintahkan kita untuk meminta perlindungan kepada Allah apabila setan mengganggu kita?Kita jawab:Memang benar tetapi yang dimaksud kita meminta perlindungan kepada Allah apabila setan mengganggu kita dengan membujuk kita melakukan perbuatan dosa.Adapun tentang menguap Rasulullah saw hanya memerintahkan kita menahannya,apabila kita tidak tahan maka tutuplah mulut kita dengan tangan.Dan Rasulullah tidak memerintahkan kepada kita untuk membaca ta`awwudz ketika menguap.
11.Pertanyaan:Apa hukum berdzikir secara bersama-sama?
Jawaban:Berdzzikir secara bersama-sama dan menutupnya dengan bacaan Hadhrah atau Al-Qur`an secara bersama-sama di masjid-masjid,di rumah-rumah,di pesta-pesta atau resepsi-resepsi,itu semua tidak ada dasarnya dalam syariat yang suci baik dari Al-Qur`an atau pun dari hadits yang shahih.Para sahabat r.a.adalah orang-orang yang paling utama dalam mengikuti syariat,namun hal demikian tidak dikenal pada masa sahabat,demikian pula dengan generasi-generasi berikutnya yang telah dinyatakan oleh Nabi Saw sebagai generasi terbaik.Sementara kebaikan itu adalah dengan mengikuti tuntunan Rasulullah Saw.Rasulullah Saw bersabda:
“Barang siapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan,maka hal itu tertolak.(HR.Muslim dari Aisyah).
Rasulullah saw bersabda:Amma ba`d:Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitabullah dan sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad saw,sementara seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru yang diada-adakan,dan setiap bid`ah adalah sesat.(HR.Muslim dari Jabir r.a.)

12.Pertanyaan:Apa hukum berdoa dengan kemulian para Nabi atau para wali?
Jawaban:Tidak boleh bertawasul dengan kemulian para Nabi Saw ataupun dengan para wali atau yang lainnya,karena ini adalah bid`ah,tidak ada dalilnya dan merupakan sarana kesyirikan.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:Kemuliaan makhluk dihadapan makhluk.Sebab tidak seorangpun yang bias memberikan syafaat pada sesama makhluk tidak perlu dengan idzinya,sebab makhluk itu adalah mitra sesame makhluk untuk mencapai sesuatu yang dituju,sedangkan Allah tidak ada sekutu bagi Nya.Sementara itu,Allah Swt telah memerintahkan kita untuk langsung berdoa kepada-Nya,Allah tidak memerintahkan untuk berdoa kepada-Nya melalui kemuliaan (jah) seseorang.Sebagaimana firman-Nya,”Berdoalah kepada Rabbmu.”(Al-A`raf:55).
“Berdoalah kepada-Ku,niscaya akan Kuperkenankan bagimu.(QS.Ghafir:60).
“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya”(QS.Ghafir:14).
“Hanya milik Allah al-Asma`ul Husna,maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut al-Asma`ul Husna itu.(QS.Al-A`raf:180).
Adapun riwayat.”Jika kalian memohon kepada Allah,maka mohonlah kepada-Nya dengan perantara kemulianku,karena kemulianku besar duhadapan Allah.”Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,hadits ini palsu,tidak terdapat dalam kitab-kitab kaum Muslimin yang direstui oleh para ahli hadits dan tidak pernah disebutkan oleh seorang ahli hadits pun.
13.Pertanyaan:Apa hukum membaca al-Fatihah setelah berdoa?
Jawaban:Kebiasaan orang pada umumnya membaca Al-Fatihah setelah selesai berdoa.Perbuatan ini sama sekali tidak ada tuntunannya dari Rasulullah Saw dan para sahabatnya,tidak ada hadits baik yang shahih ataupun yang dha`if sekalipun yang mengatakan Rasulullah Saw membaca Al-Fatihah setelah berdoa.Jadi perbuatan ini adalah bid`ah yang diada-adakan didalam agama dan selayaknya kita meninggalkan.Karena Rasulullah Saw bersabda:
“Barang siapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan,maka hal itu tertolak.(HR.Muslim dari Aisyah).
Rasulullah saw bersabda:Amma ba`d:Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitabullah dan sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad saw,sementara seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru yang diada-adakan,dan setiap bid`ah adalah sesat.(HR.Muslim dari Jabir r.a.)          
14.Pertanyaan:Apa hukum menyapu muka setelah selesai berdoa?
Jawaban: Salah satu amalan dan kebiasaannya dalam masyarakat kita, ialah mengusap (menyapu) muka setiap kali selesai berdoa sebagai penutup doa dan mungkin untuk mendapat berkat dari doa tersebut. Sebenarnya perbuatan tersebut tidak mempunyai asas/landasan dari syara’ dan tiada nas yang boleh dijadikan hujjah/sandaran, kerana semua hadis-hadis yang menunjukkan menyapu muka setelah selesai berdoa keseluruhannya lemah/dhaif belaka. Antara hadis-hadis tersebut ialah:

Kelompok Hadis pertama:

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ كَعَبِ الْقَرْظِيِّ عَنِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِذَا سَاَلْتُمْ بِاللهِ فَسَلُوْهُ بِبُطُوْنِ اَكُفِّكُمْ ، وَلاَ تَسْاَلُوْهُ بِظُهُوْرِهَا ، وَامْسَحُوْا بِهَا وُجُوْهَكُمْ

“Dari Muhammad bin Ka’ab al-Qurdzi dari Ibnu Abbas berkata: Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda: Apabila kamu meminta (berdoa) kepada Allah, maka mintalah dengan telapak tangan kamu, jangan memintanya dengan belakangnya. Dan sapulah dengannya muka kamu”. (Hadis Riwayat At-Thabrani dalam
المعجم الكبير 10/10779. az-Zahabi dalam المستدرك 1/536. Al-Baihaqi. السنن الكبرى2/212)


(1). عَنْ صَالِحِ بْنِ حَسَّانَ اْلاَنْصَارِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ كَعَبِ الْقَرْظِيِّ عَنِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِذَا دَعَوْتَ اللهَ فَادْعُ بِبَاطِنِ كَفَّيْكَ ، وَلاَ تَدْعُ بِظُهُوْرِهَا ، فَاِذَا فَرَغْتَ فَامْسَحْ بِهِمَا وَجَهَكَ.

(1). “Dari Soleh bin Hassan al-Ansari, dari Muhammad bin Ka’ab al-Qardzi dari Ibn Abbas, beliau berkata: Bersabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam: Jika engkau berdoa kepada Allah, maka berdoalah dengan telapak tanganmu, janganlah berdoa dengan kedua-dua belakangnya. Maka setelah selesai, sapulah wajahmu dengan kedua tanganmu”. (Hadis Riwayat Ibnu Majah dalam Sunan. 1/373. Hadis No. 1181)

Kedua-dua hadis di atas ini adalah sangat lemah kerana pada sanadnya terdapat perawai yang lemah sebagaimana dapat diketahui dari penjelasan di bawah ini:

Dalam az-Zawaid dinyatakan: Isnad hadis ini lemah. Ia dilemahkan kerana terdapat perawi bernama Soleh bin Hassan. (Lihat: Sunan Ibn Majah. 1/373)

Menurut Imam Bukhari rahimahullah: Hadis yang dari Soleh bin Hassan al-Ansari dari Muhammad bin Ka’ab al-Qurdzi adalah hadis mungkar. Dan beliau berkata lagi: Setiap seseorang yang telah aku katakan hadisnya mungkar, maka tidak halal untuk meriwayatkan hadis darinya. (Lihat:
ميزان الاعتدال 1/6. Az-Zahabi)

Menurut Ibnu Hibban: Semua hadis yang diriw
ayatkan oleh (Soleh bin Hassan al-Ansari) adalah hadis-hadis palsu. (Lihat: al-Irwa al-Ghalil. 2/180. al-Albani)

Menurut al-Hafiz Ibn Hajar rahimahullah: Soleh bin Hassan (
متروك) “Ditinggalkan”. (Lihat: المعجم الكبير 10/319)

Tambahan
وَامْسَحُوْا بِهَا وُجُوْهَكُمْ فَهِيَ زِيَادَةٌ مُنْكَرَة “Dan sapulah muka kamu dengan telapak tangan kamu (setelah selesai berdoa), maka ia adalah tambahan yang mungkar”. (Lihat: المعجم الكبير 10/319)

Berkata Abu Daud: Dia (soleh bin Hassan) seorang yang lemah. (Lihat:
المعجم الكبير 10/319)

Hadis Kedua:


(2). حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ عِيْسَى الْجُهَنِيُّ عَنْ حَنْظَلَةَ بْنَ اَبِيْ سُفْيَانَ الْجُمَحِيِّ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللهِ عَنْ اَبِيْهِ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ فِى الدُّعَاءِ لَمْ يَحُطُّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهَمَا وَجْهَهُ . قَالَ مَحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى فَى حَدَيْثِهِ : لَمْ يَرُدُّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهَمَا وَجْهَهُ

(2). “Berkata Hammad bin Isa al-Juhani dari Handhalah bin Abi Sufyan al-Jumahi dari Salim bin Abdullah dari bapanya dari Umar bin al-Khattab radiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam mengangkat tangannya dalam berdoa. Baginda tidak mengembalikan kedua tangannya sehingga mengusap wajahnya. Berkata Muhammad bin al-Muthannah dalam hadisnya: Baginda tidak mengembalikannya keduanya sehingga mengusap dengan kedua tangannya wajahnya”. (Hadis Riwayat Tirmizi. 5/3386)

Hadis di atas ini adalah hadis lemah kerana sanad hadis ini berasal dari Hammad bin Isa al-Juhani. Nama penuh beliau ialah: Hammad bin Isa bin Ubaid bin at-Thufail al-Juhani al-Wasiti al-Basri. Dia seorang perawi yang sangat lemah.

Berkata Sheikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah: Perawi seperti dia adalah lemah sekali. Maka hadisnya tidak boleh dihasankan, dengan demikian sama sekali tidak boleh disahihkan. (Lihat: Irwa al-Ghalil fii Takhrij Ahadis Manaris Sabil. 2/433)

Menurut al-Hafiz az-Zahabi: Hammad bin Isa al-Juhani adalah perawi yang lemah. (Lihat:
سير اعلام النبلاء 16/67. Az-Zahabi)

Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah berkata: Hadis (Hammad) ini adalah hadis mungkar yang diyakini tidak ada asalnya. (Lihat:
العلل 2/351. Ibnu Abi Hatim ar-Razi)

Hadis di atas ini juga dilemahkan oleh para
ulama hadis. Antaranya ialah: Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam Ahmad dan Abu Hatim ar-Razi. Berkata Ibnu Makula: Para ulama hadis telah melemahkan hadis-hadis Hammad. (Lihat: تهذيب التهذيب oleh Ibnu Hajar. Lihat:العلل المتنهية 2/841. Ibnu al-Jauzi)

Hadis Ketiga:

(3). عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ تَسْتُرُوْا الْجُدُرَ مَنْ نَظَرَ فِى كَتَابِ اَخِيْهِ بِغَيْرِ اِذْنِهِ فَاِنَّمَا يَنْظُرُ فِى النَّارِ ، سَلُوْ اللهَ بِبُطُوْنِ اَكُفِّكُمْ وَلاَ تَسْاَلُوْهُ بِظُهُوْرِهَا ، فَاِذَا فَرَغْتُمْ فَامْسَحُوْا بِهَا وُجُوْهَكُمْ

(3). “Dari Abdullah bin Abbas radiallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah sallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda: Janganlah kamu menutupi dinding-dinding (dengan kain), sesiapa melihat kitab saudaranya tanpa izinnya, maka sesungguhnya dia telah melihat dalam neraka. Mintalah kepada Allah dengan telapak-telapak tangan kamu dan janganlah meminta dengan belakangnya. Jika kamu telah selesai berdoa, maka usaplah wajah kamu dengan telapak tangan kamu”. (Hadis Riwayat Ibn Majah dan Abu Daud)

Menurut para ulama hadis, hadis ini sangat lemah kerana mempunyai beberapa illah (penyakit):

Berkata Abul Hasan bin al-Qatthan dan Al-Hafiz Iban Hajar:

“Perawi hadis ini (Abdul Malik bin Muhammad bin Aiman al-Hijazi)
هو مجهول “Dia tidak diketahui/tidak dikenali”. (Lihat: تقريب التهذيب - Ibnu Hajar)

Berkata Abu Daud:


روي هذا الحديث من غير وجه عن محمد بن كعب كلها واهية وهذا الطريق امثلها وهو ضعيف ايضا

“Hadis ini telah diriwayatkan dari berbagai jalan dari Muhammad bin Ka’ab, yang semuanya sangat lemah. Walaupun sanad ini adalah yang terbaik, namun hadis ini juga adalah lemah”. (Lihat:
مختصر سنن ابي داود 2/1432)

Dengan penjelasan di atas, ternyata bahawa hadis-hadis tentang menyapu muka setelah s
elesai berdoa tidak ada yang sahih, oleh itu ia adalah sesuatu yang bid’ah, kerana perbuatan tersebut tidak pernah dilakukan dan tidak ada contohnya dari Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam, para sahabat, para tabi’in, tabi’ut at-tabi’in dan dari para ulama Salaf as-Soleh yang mengikut jejak mereka.

PANDANGAN ULAMA DALAM HAL INI (MENYAPU MUKA SETELAH BERDOA):

1 – AL-Mawarzi di dalam kitab al-Witr (hal. 236) berkata, “Imam Malik bin anas al-Ashbahi Rahimahullah (w. 179H) ditanya tentang seseorang yang mengusap mukanya dengan kedua telapak tangannya ketika berdoa, ia mengingkari hal itu dan berkata, “Aku tidak mengetahuinya.””

2 – Dari apa yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi (2/212), “Aku bertanya kepada Abdullah (Imam Abdullah Bin al-Mubarak Rahimahullah (w. 181H)/Ibnul Mubarak) berkenaan dengan orang yang jika berdoa mengusap mukanya, ia berkata, “Aku tidak menyaksikannya melakukan hal itu.” Ia berkata, “Abdullah berdoa qunut setelah ruku’ di dalam solat witr dengan mengangkat kedua tangannya.”

3 – al-Baihaqi (w.458H), penulis kitab al-Sunan al-Kubra, di dalam kitabnya (2/212) ia berkata, “Berkenaan masalah mengusap muka dengan dua telapak tangan selepas selesai berdoa adalah sesuatu yang tidak ku hafal dari walau seseorang salaf (generasi awal) dalam hal doa qunut, sekalipun diriwayatkan dari sebahagian mereka hal itu dalam doa di luar solat. Telah diriwayatkan dari Nabi s.a.w. sebuah hadis yang di dalamnya terdapat kelemahan yang menurut sebahagian mereka hadis itu diamalkan di luar solat, sedangkan di dalam solat hal itu adalah amalan yang tidak baku. Maka, yang lebih utama adalah tidak melakukannya dan membatasi diri dengan mengamalkan apa yang diamalkan oleh para salaf Rahimahullah berupa mengangkat kedua tangan (ketika berdoa) tanpa mengusap muka di dalam solat.

4 – Imam al-Nawawi Rahimahullah (w. 676H) turut tidak memandub-kan (menyarankan/mengharuskan) mengusap muka setelah berdoa, sekalipun di luar solat, sebagaimana yang disebutkannya di dalam kitab al-Majmu’. Hal itu disebutkan pula oleh Ibnu ‘Alan di dalam kitab Syarh al-Adzkar (2/311).

Di dalam kitab ar-Raudhah (1/255), beliau Rahimahullah berkata, “Aku telah katakan bahawa tidak mustahab secara mutlak mengusap walau selain muka sama sekali, bahkanjama’ah dari kalangan para ahli ilmu berpendapat bahawa hal itu makruh hukumnya.

Ini adalah cabang dari salah satu aspek menurut kalangan pengikut syafi’i berkenaan dengan mengusap muka setelah berdoa.

5 - Menurut Sheikh al-Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah (w. 728H) menyatakan di dalam al-Fatawa (22/519), dalam persoalan ini: “Berkenaan dengan Nabi s.a.w. mengangkat tangan ketika berdoa telah ada sejumlah hadis sahih berkenaan dengannya, sedangkan berkenaan dengan mengusap muka dengan kedua tangan, tidak ada hadis berkenaan dalam hal itu, melainkan satu atau dua buah hadis sahaja yang tidak boleh dijadikan hujjah dengan keduanya. Wallahu a’lam.

6 – al-Fairuz Abadi Rahimahullah (w. 817H) di dalam kitab Safar as-Sa’adah ia berkata, “Mengenai masalah mengusap muka dengan dua telapak tangan setelah berdoa tidak ada hadis yang sahih berkenaan dengannya.” Maka, beliau juga turut menyatakan bahawa hal menyapu muka selepas berdoa adalah tidak disunnahkan.

7 – Ibnu ‘Alan ash-Shadiqi (w. 1057H), di dalam kitab syarh al-Adzkar (2/311) menyatakan bahawa, “Terdapat faktor yang memperkuat aspek pertama dari mazhab syafi’i bahawa ia menjadikan mustahab (disarankan) mengangkat tangan (ketika berdoa), dan tidak mengusap. Wallahu a’lam.


3 komentar:

  1. boleh tanya min... apakah anta anti antuma antum(anda) pernah bertemu Rasul SAW?

    BalasHapus
  2. Sholat di Indonesia Bid'ah, karena tidak ada riwayat mengatakan rasulullah saw sholat di indonesi

    BalasHapus