Total Tayangan Laman

Minggu, 05 Februari 2012

Taklid


                                                          

                                           “Definisi Taklid Dari Segi  Bahasa”
Kita sering sekali mendengar dari seseorang yang mengucapkan kata Taklid,atau seseorang mengatakan engkau Taklid kepada si Fulan.Untuk itu marilah kita Tinjau dari pandangan agama dan hukum Taklid dalam agama islam.Sebelum kita mengulas tentang hukum taklid dalam pandangan agama islam marilah lebih dahulu kita ketahui apa arti taklid menurut bahasa.Kata taklid itu berasal dari bahasa Arab,dari kata kerja qallada-yuqallidu-taqlidan,artinya sepanjang lughat(bahasa)adalah bermacam-macam,menurut letak dan rangkaian katanya,diantaranya berarti:Menyerahkan,Menghiasi,Menyelempangkan,meniru,menuruti seseorang dan menerima piutang.Misalnya:
“Ia menghiasi leher dengan kalung.”
“Ia menyerahkan pekerjaan.”
“Ia menyelempangkan pedang.”
“Ia meniru padanya demikian.”
“Ia menuruti seseorang tentang itu.”
“Ia menerima piutang dari fulan.”
                                                  Taklid menurut istilah ahli agama”
Tentang kata taklid sepanjang istilah syarak,yang biasa terpakai dalam bahasa dalam urusan agama dan menurut takrif yang telah diberikan oleh para ulama ahli usul,antara lain adalah:
Menerima perkataan orang yang berkata,padahal kamu tidak mengetahui dari mana perkataan yang dikatakannya itu.
Imam Abu Abdillah Khuwaz Mandal al-Maliki berkata:
Taklid itu artinya pada syarak ialah kembali berpegang kepada perkataan yang tidak ada alasan bagi orang yang mengatakannya.
Imam al-Ghazali berkata:
Taklid itu ialah menerima perkataan tidak dengan alasan
Imam Syaukani berkata:
Taklid itu ialah menerima pendapat orang yang tidak berdiri dengannya hujah(alasan).
Imam as-Shan`ani berkata:
Taklid itu ialah mengambil pada perkataan orang lain yang tidak dengan hujah.
 Sayid Muhammad Rasyid Ridha didalam al-Manar memberikan takrif taklid,yang artinya:Taklid itu ialah mengikuti orang yang terhormat atau dipercaya dalam sesuatu hukum dengan tidak memeriksa lagi benar atau salahnya,baik atau buruknya,manfaat atau mudaratnya hukum itu.
Dan lain-lain takrif lagi yang artinya serupa dengan takrif-takrif tersebut,yang dari semuanya dapat diambil kesimpulan:Taklid itu ialah menerima,mengambil perkataan atau pendapat orang lain yang tidak ada hujah(alasan)nya dari Al-Qur`an atau dari sunnah Rasul.
                              Bolehkah bertaklid didalam urusan agama?
Didalam al-Qur`an ada terdapat beberapa ayat yang isinya jelas menunjukkan ,bahwa orang yang bertaklid dalam urusan agama(urusan akaid,ibadat dan hukum),itu perbuatan yang dilarang oleh agama ,dan satu perbuatan yang tercela dan satu perbuatan yang membawa kearah kesesatan.Diantara ayat-ayat itu adalah seperti yang kami kutip dibawah ini:
Firman Allah Ta`ala:Dan apabila dikatakan kepada mereka:Turutlah olehmu apa-apa yang diturunkan Allah.Mereka berkata:Kami hanya akan menuruti apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang tua kami.Apakah mereka mau menuruti saja walaupun orang-orang tua mereka tidak mengerti apa-apa dan tidak mendapat petunjuk kejalan yang lurus.(QS.al-Baqarah:170).
Firman Allah Ta`ala:Dan apabila dikatakan kepada mereka :Marilah kepada apa yang telah diturunkan Allah dan kepada Rasul,mereka berkata:Cukup bagi kami apa-apa yang kami dapati dan orang-orang tua kami atasnya,Apakah walaupun orang-orang tua mereka tidak mengetahui apa-apa dan tidak mendapat pimpinan kejalan yang lurus.(QS.al-Maidah:104).
Ayat ini menunjukkan kepada kita,bahwa orang-orang yang bertaklid itu sangat dijelekkan dan dicela oleh Allah.Karena mereka itu,apabila diajak kembali mengikuti pimpinan Allah dan kepada pimpinan Rasul,mereka menjawab:Kami hanya akan menuruti saja cara-cara yang telah dilakukan oleh orang-orang tua kami,nenek moyang kami,atau:Cukuplah bagi kami agama yang telah dijalankan  dan dikerjakan oleh nenek moyang kami dan datuk-datuk kami.Mereka berkata yang sedemikian itu,karena sudah penuh sangkaan dan anggapan,bahwa cara-cara agama yang telah dikerjakan oleh nenek moyang mereka itu sudah benar,sudah sesuai pimpinan agama yang sebenarnya,dengan tidak mencari atau meminta keterangan yang menunjukkan kebenaran agama yang telah dipeluk oleh nenek moyang mereka itu.
Firman Allah Ta`ala:Pada hari dibolak-balik muka mereka dalam neraka,mereka berkata:Aduhai kiranya,alangkah baiknya,jika kami patuh kepada Allah dan kepada Rasul”Dan mereka berkata”Ya Tuhan kami,sesungguhnya kami telah patuh kepada ketua-ketua kami dan pembesar-pembesar kami,maka mereka telah menyesatkan kami.(QS.al-Ahzab:66-67).
Ayat ini jelas menunjukkan,bahwa betapa menyesalnya orang-orang yang menolak pimpinan Allah dan pimpinan Rasul,kelak pada hari kemudian sesudah dimasukkan kedalam neraaka,disebabkan mereka ketika didunia selalu bertaklid saja kepada ketua-ketua,pemuka-pemuka dan pembesar-pembesar mereka.
Firman  Allah Ta`ala:Ketika orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikutinya,karena mereka telah melihat siksaan,dan putuslah pertalian diantara mereka.Dan berkatalah orang-orang yang mengikut :Sekiranya kami dapat kembali lagi(kedunia)maka kami akan berlepas tangan pula dari mereka,sebagaimana mereka berlepas tangan dari kami.Begitulah Tuhan memperlihatkan perbuatannya itu menjadi penyesalan kepada mereka dan mereka tidak keluar dari neraka.(QS.al-Baqarah:166-167).
Ayat ini dengan tegas dijelaskan oleh Allah,bagaimana akibat orang-orang yang bertaklid dalam urusan agama.Dikala mereka telah melihat ketua-ketua mereka yang selalu dituruti segala omongannya,melepaskan diri dari mereka yang selalu menurut sewaktu ketika didunia,dan mereka telah melihat siksa yang telah disediakan dimuka mereka,sedang semua pertalian yang diharapkan mereka telah putus,maka mereka berkata:Jika kami dapat kembali sekali lagi kedunia,maka kami akan berlepas diri dari kami sekarang ini.
Demikianlah penyesalan yang dilahirkan oleh orang-orang yang dalam beragama selalu menurut omongan dari kelakuan orang yang dipandang sebagai menjadiakn kesusahan dan kedurhakaan mereka sendiri.
Dari ayat-ayat yang tertera diatas,kita dapat mengambil kesimpulan,bahwa Taklid itu adalah sangat dibenci oleh Allah dan merupakan perbuatan yang tercela dan dilarang oleh agama.
                         “Ayat-ayat dan hadits-hadits yang melarang Taklid
Diantara ayat al-Qur`an yang melarang Taklid adalah:
Firman Allah Ta`ala:Dan janganlah kamu mengikuti apa yang tidak kamu ketahui,karena sesungguhnya pendengaran,penglihatan dan hati,semua-nya itu akan ditanya.(QS.al-Isra:36).
Ayat ini jelas sekali mengandung arti,bahwa kita janganlah mengikuti apa-apa yang tidak kita ketahui ,yakni segala sesuatu yang kita kerjakan itu harus disertai pengetahuan.pengertian nya adalah jangan asal ikut-ikut saja,jadi jelas ayat ini melarang taklid.
Firman Allah Ta`ala:Maka bertanyalah kamu kepada ahli zikir,jikalau kamu tidak mengetahui.(QS.an-Nahl:43).
Maksud kata”ahli zikir”yang terkandung dalam ayat ini,ialah ahli ilmu pengetahuan,ahli kitab(Qur`an).
Jadi maksud ayat ini adalah:Jika kita tiada mengetahui(tiada beilmu),hendaklah bertanya kepada ahli kitab(Qur`an),sebagai anjuran,supaya tiap-tiap orang bertanya dan memuntut ilmu pengetahuan kepada orang yang ahlinya.Sebab itu orang-orang islam tidak boleh tinggal bodoh,melainkan harus berilmu pengetahuan.(Tafsir Qur`an Karim oleh Mahmud Yunus).
Jadi jelas buat kita bahwasanya kita diperintahkan agar kita tidak menjadi orang yang bertaklid,jadi jikalau kita tiada mengerti supaya bertanya kepada orang yang mengerti dengan meminta keterangannya.Jadi jangan asal main ikut-ikutan saja tanpa mengetahui ilmunya.
Firman Allah Ta`ala:Mereka itu menjadikan ketua-ketua agama dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah.(QS.at-Taubah:31).
Ayat ini menjelaskan tentang keadaan kaum Yahudi dan kaum Nasrani,yang mereka itu itu telah menganggap ketua-ketua,ulama-ulama dan pendeta-pendeta itu sebagai tuhan-tuhan mereka selain Allah.Sebab-sebabnya mereka mereka dinyatakan sedemikian itu oleh Allah,karena taklid mereka kepada ketua-ketua dan pendeta-pendeta mereka,Adapun jelasnya sepanjang riwayat adalah sebagai berikut.
Kata Sahabat Adi bin Hatim:Aku pernah datang kepada Rasulullah saw,pada leherku ada salib,maka beliau bersabda kepadaku;Hai Adi,lemparkan arca ini dari lehermu dan jangan kamu pakai lagi,dan beliau membaca Firman Allah Ta`ala:
Mereka itu menjadikan ketua-ketua agama dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah.(QS.at-Taubah:31).
Kata Adi:Aku berkata:Ya Rasulullah,kami tidak menjadikan tuhan-tuhan kepada pendeta itu.                Nabi Saw bersabda:Bukankah mereka menghalalkan bagi kamu barang yang diharamkan Allah atas kamu,lalu kamu menghalalkannya,dan mereka mengharamkan atas kamu barang apa yang dihalalkan Allah kepadamu,lalu kamu mengharamkannya?.
Kata Adi:Bahkan ya Rasulullah”
Nabi bersabda:Demikian itulah ibadat kepada mereka.
Yakni,yang demikian itulah yang dinamakan menganggap atau menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan,karena omongan mereka selalu ditaati.
Dengan riwayat ini jelaslah kiranya,bahwa yang dinamakan,”menganggap atau menjadikan tuhan-tuhan kepada selain Allah”itu tidak saja menyembah kepada selain dari Allah,tetapi menurut orang lain atau bertaklid saja kepada orang yang dipandang sebagai kepala agama atau pemimpin agama dengan menyalahi pimpinan Allah,itupun termasuk menyembah atau mengabadikan diri kepada selain Allah,karena orang yang bertaklid itu selalu penuh kepercayaan mereka,dan mereka akan mengikut dengan patuh,walaupun yang diharamkan oleh kepala agama mereka itu,terang dihalalkan oleh Allah,dan yang dihalalkan oleh mereka itu,diharamkan oleh Allah.
Jadi singkatnya,kalau mengingat ayat ini,orang yang bertaklid tentang urusan agama itu,berarti menyembah atau bertuhan kepada selain dari Allah.
Demikinlah ayat dan riwayat yang menunjukkan larangan bertaklid dalam urusan agama dan hukum-hukum agama.
                              “Larangan Sahabat Nabi saw,tentang bertaklid
Begitu banyak pernyataan Sahabat Nabi saw yang melarang bertaklid didalam urusan agama, diantaranya adalah seperti yang kami kutip dibawah ini.
Abu bakar as-Shiddiq r.a.berkata:Hendaklah kamu taat kepadaku sebagaimana aku taat kepada Allah,maka apabila aku tidak mengingat Allah,maka tidak adalah kewajibanmu menaati aku.
Yakni,apabila aku tidak menaati pimpinan Allah,maka janganlah kamu mentaati aku.
Ali bin Abu Thalib r.a.Berkata:Jauhkanlah diri kamu dari sikap menurut saja pada orang-orang.
Sahabat Abdullah bin Mas`ud r.a.Berkata:Janganlah salah seorang dari kamu bertaklid tentang agamanya kepada seseorang.
Dilain riwayat Abdullah bin Mas`ud r.a.Berkata:Adapun orang alim itu,maka jika ia mendapat petunjuk,janganlah kamu bertaklid kepadanya tentang agama kamu.
Dilain riwayat Abdullah bin Mas`ud r.a.Berkata:Jadilah kamu orang yang mengerti atau orang yang belajar,dan janganlah sekali-kali kamu menjadi pengikut pikiran orang lain.
Salman al-Farisi r.a.Berkata:Sesungguhnya orang alim itu,jika mendapat petunjuk,maka janganlah kamu bertaklid kepadanya tentang agama kamu.
Dengan perkataan dari Sahabat Nabi saw yang telah kami kemukakan diatas,menunjukkan suatu bukti larangan bertaklid didalam agama.Untuk penjelasan lebih lanjut akan kami kemukakan dari pernyataan-pernyatan dari Imam empat yakni Hanafi,Maliki,Syafi`I,dan Hanbali yang melarang pengikutnya bertaklid kepada seseorang didalam agama.Mengingat pada saat ini banyaknya orang yang bertaklid kepada Imam yang empat,maka dari itu kami akan kemukakan pernyataan dari Imam yang mereka takliddi tersebut bahwa Imam empat pun telah melarang perbuatan taklid didalam agama,dan tidak satu pun dari mereka membenarkan perbuatan taklid.
                   “Pernyataan dari Imam empat tentang larangan Taklid.”
Imam Abu Hanifah(Hanafi)berkata:Tidak halal bagi seseorang untuk berkata dengan perkataan kami,hingga ia mengetahui dari mana kami mengatakannya.
Imam Abu Hanifah(Hanafi)berkata:Haram atas siapa-siapa yang belum mengetahui dalil(alasan)Fatwaku,bahwa ia akan berfatwa dengan perkataanku.
Bahwasanya Abu Hanifah ditanya:Apakah engkau berkata satu perkataan,padahal kitab Allah menyalahkannya,bagaimana?Kata beliau:Tinggalkanlah perkataanku,ikutilah kitab Allah.Maka beliau ditanya pula:Apakah Khabar(hadits)Rasul saw menyalahkannya?Kata beliau:Tinggalkanlah perkataanku,dan ikutlah khabar Rasul saw.Kemudian beliau ditanya lagi:Apabila perkataan Sahabat menyalahkannya?Kata beliau:Tinggalkan perkataanku,dan ikutlah perkataan Sahabat itu.
Imam Abu Hanifah(Hanafi)berkata:Jika perkataanku menyalahi kitab Allah dan khabar Rasul,maka tinggalkanlah perkataanku itu.
Perkataan-perkataan Imam Abu Hanifah yang demikian jelasnya itu,menunjukkan tidak sukanya ia akan taklid,yang berarti juga beliau tidak suka di takliddi.
Imam Malik bin Anas(Maliki)berkata:Sesungguhnya aku ini tidak lain melainkan manusia,yang boleh jadi aku salah dan boleh jadi aku benar.Maka dari itu,hendaklah kamu memperhatikan pendapatku.Maka tiap-tiap yang sesuai dengan kitab Allah dan sunnah,kamu ambillah dia,dan tiap-tiap yang tidak sesuai dengan kitab Allah dan sunnah,tinggalkanlah pendapatku.
Imam Malik bin Anas berkata:Rasulullah saw,telah wafat,dan sesungguhnya urusan (agama) ini telah selesai dan sempurna.Maka seyogianya bahwa kamu mengikuti atsar-atsar Rasulullah saw,dan janganlah kamu mengikuti pikiran orang;karena sesungguhnya bila pikiran (pendapat) orang diikuti,datang orang lelaki lain kuat tentang pikirannya dari pada kamu,lalu kamu mengikuti pikirannya;maka kamu tiap-tiap kali datang seorang manghalalkan kamu,mengikutlah kamu kepadanya,aku memandang demikian ini tidaklah sempurna.
Imam Malik pernah berpesan kepada Ibnu Wahbin katanya:Hai Abdullah,apa-apa yang telah engkau ketahui,maka katakalah ia dan ambillah alasan dengannya dan apa-apa yang belum engkau ketahuinya,maka hendaklah engkau diam darinya dan jauhkanlah diri engkau bertaklid kepada manusia dengan rantai taklid jelek.
Imam Malik berkata:Tiap-tiap orang dapat diambil omongannya dan dapat ditolak,melainkan omongan yang mempunyai  kubur ini,beliau sambil menunjuk kearah makam yang mulia(makam Nabi).
Dilain riwayat beliau berkata:Tiap-tiap omongan dari seseorang itu boleh diterima dan boleh ditolak,kecuali omongan yang mempunyai kubur ini.
Dilain riwayat Imam Malik pernah berkata:Sesungguhnya aku ini manusia,yang boleh jadi benar dan boleh jadi salah;maka dari itu bandingkan perkataanku kepada kitab Allah dan sunnah.
Dilain riwayat Imam Malik juga berkata:Tidak tiap-tiap perkataan yang dikatakan oleh seseorang,sesekalipun ia mempunyai kelebihanan,harus diturut perkataannya.
Diriwayatkan,bahwa Baginda Harun ar-Rasyid hendak memerintahkan orang banyak supaya mengikuti Mazhab Imam Malik,tetapi Imam Malik melarang keras tentang itu.
Jelaslah sudah bahwa Imam Malik pun Melarang keras orang yang bertaklid baik kepada diri beliau sendiri ataupun kepada orang lain.
Imam Muhammad bin Idris as-Syafi`i(Syafi`i)berkata:Apa yang telah aku katakan padahal Nabi saw,sungguh telah mengatakan dengan menyalahi perkataanku,maka apa yang telah sah dari hadis Nabi saw,lebih utama,dan janganlah kamu bertaklid kepadaku.
Imam Syafi`I berkata:Tiap-tiap masalah yang sah padanya khabar(hadits)Rasulullah saw,dengan menyalahi apa yang telah aku katakana,maka aku akan rujuk(kembali mengikut)kepadanya diwaktu aku hidup atau sesudah mati.
Imam Syafi`I berkata:Apabila kamu dapati dalam kitabku sesuatu yang menyalahi sunnah Rasulullah saw,maka hendaklah kamu berkata dengan Sunnah Rasulullah saw,dan tinggalkanlah perkataanku.
Imam Syafi`I berkata:Apabila telah sah hadits,maka kamu lemparkanlah perkataanku kedinding.
Imam Syafi`I berpesan kepada Imam Abu Ishaq,katanya:Hai Abu Ishaq,janganlah kamu bertaqlid kepadaku pada tiap-tiap apa yang aku katakan,dan perhatikanlah yang demikian,untuk dirimu sendiri,karena itu agama.
Imam Syafi`I berkata:Apabila kamu dapati perkataanku bersalah dengan perkataan Rasulullah saw,maka lemparkanlah perkataanku ke tepi dinding.
Imam Syafi`I sendiri,lantaran dari kerasnya melarang taklid,beliau pernah juga berkata:Misal orang yang menuntut ilmu dengan tidak ada hujah(alasan yang kuat),bagaikan pemungut kayu pada malam hari.Ia membawa seberkas kayu bakar,padahal didalamnya ada satu ular jahat yang akan memagutnya sedang ia tak tahu.
Dengan perkataan Imam Syafi`I diatas jelaslah buat kita bahwa beliau pun melarang keras tentang bertaklid didalam agama,dan beliaupun tidak suka ditakliddi.
Imam Ahmad bin Hanbal(Hanbali) berkata:Salah satu tanda kekurangan pengertian seseorang ialah bertaklid kepada orang-orang lain tentang agamanya.
Imam Abu Dawud pernah berkata kepada Imam Ahmad bin Hanbal:Imam al-Auza`I lebih menurut sunnah daripada Imam Malik.
Beliau(Ahmad bin Hanbal)berkata:Janganlah engkau bertaklid tentang agamamu kepada seseorang dari mereka itu,apa yang datang dari Nabi saw,dan Sahabatnya,maka ambillah dia.
Diriwayatkan,bahwa pada suatu hari Imam Ahmad bin Hanbal dimintai pertimbangannya oleh seorang Sahabatnya,tentang bahwa ia akan bertaklid kepada salah seorang alim besar dimasanya,lalu beliau(Ahmad bin Hanbal)berkata:Janganlah kamu bertaklid kepadaku,jangan kamu bertaklid kepada Malik,jangan kepada Auza`I,jangan kepada Tsauri,dan jangan pula kepada lain-lainnya,tetapi ambillah olehmu hukum-hukum dari mana mereka itu mengambil.
Imam Ahmad bin Hanbal berkata:Janganlah kamu bertaklid kepada orang-orang tentang agamamu,karena sesungguhnya mereka itu tidak akan selamat bahwa mereka itu bersalah.
Maksudnya adalah,jangan kamu bertaklid saja kepada orang lain tentang agama kamu,karena orang yang ditakliddi itu tidak akan jauh dan terlepas dari kesalahan.
Pesan Imam yang empat yang kami kutip diatas,kita dapat mengambil kesimpulan,bahwa dimasa hidup beliau-beliau yang utama itu,tidak ada orang bertaklid saja tentang urusan agama kepada salah seorang alim besar,karena para ulama yang hidup dimasa itu tidak ada seorang pun yang bersikap ingin ditakliddi.Bahkan mereka masing-masing memerintahkan supaya orang beragama itu mengikut hujah atau dalil yang jelas dari Al-Qur`an atau dari sunnah Rasul,dan melarang keras orang bertaklid kepada siapun,karena bertaklid itu amat berbahaya sekali dan dilarang oleh agama.
                           “Wasiat Ulama besar tentang melarang Taklid
Imam Abu Yusuf salah seorang alim besar salah seorang sahabat Imam Abu Hanifah berkata:Tidak halal bagi seseorang,bahwa ia akan berkata dengan perkataan kami,kecuali sudah mengerti dari mana kami berkata.
Imam Muzani salah seorang alim besar dan sahabat Imam Imam Syafi`I yang amat rapat berkata:Aku telah meringkaskan kitab ini dari ilmu Muhammad bin Idris as-Syafi`I dan dari makna perkataanya,untuk mendekatkannya(memudahkannya)bagi orang yang menghendakinya,serta aku beritahukan,tentang larangannya dari hal mentakliddinya dan mentakliddi orang lain,agar orang memperhatikan pada agamanya dan berhati-hati tentang agamanya untuk dirinya.(al-Mukhtashar).
Abdullah bin al-Mu`tamir berkata:Tidak ada perbedaan antara satu binatang ternak yang menurut dan seorang manusia yang taklid.
Perkataan ini sangat pedas rasanya,kalau memang dirasakan benar-benar.Karena dalam kenyataan orang yang bertaklid itu memang selalu menurut saja kepada orang yang ditakliddi.
Imam Ubaidullah bin Khuwaiz al-Maliki berkata:Taklid itu artinya didalam syarak,berpegang kembali kepada perkataan yang tidak ada alasan bagi yang mengatakannya,dan yang demikian itu dilarang menurut syariat;dan ittiba itu ialah apa yang ada alasannya.
Dan selanjutnya beliau berkata:Tiap-tiap orang yang engkau turuti perkataannya,maka engkau bertaklid kepadanya,padahal taklid didalam agama Allah itu tidak sah,dan tiap-tiap orang akan member dalil yang mewajibkan engkau menuruti perkataannya,maka engkau turuti akan dalil itu;dan ittiba itu dalam agama diperkenankan dan taklid itu dilarang.
Imam Ibnul Jauzi berkata:Ketahuilah,bahwasanya orang yang bertaklid itu tidak mempunyai keteguhan pada apa yang ia takliddi,dan taklid itu merusakkan kemanfaatan akal,karena akal itu dijadikan untuk berangan-angan dan berpikir.Dan amat keji pada orang yang diberikan lilin yang harus dinyalakannya untuk penerangan dalam kegelapan,tetapi ia memadamkannya,dan ia berjalan didalan keadaan gelap gulita.(Talbis Iblis).
Imam al-Ghazali berkata:Taklid itu ialah menerima suatu perkataan yang tidak dengan hujah(alasan);dan tidaklah taklid itu menjadi jalan kepada ilmu pengetahuan,baik dalam urusan usul maupun dalam urusan furu agama.(al-Mustashfa).
Imam Sanad bin Anan al-Maliki berkata:Seorang yang bertaklid itu tidak diatas pandangan yang benar,dan ia tidak bersifat dari pengetahuan yang sebenarnya,karena taklid bukan jalan yang menyampaikan kepada ilmu pengetahuan.
Perkataan ini serupa dengan perkataan Imam al-Ghazali,seperti yang telah kami kemukakan sebelumnya.
Imam Ibnu Abdil-Barr pernah menulis dalam sebuah kitab yang mengupas tentang kejelekan taklid,beliau menulis dengan tegas sebagai berikut:Dan tidak ada perselisihan lagi diantara para Imam disegenap Negara tentang kerusakan taklid.(Jami`u Bayanil-Ilmi wa Fadhlih).
Imam Ibnu Hazmin pernah menulis didalam kitabnya tentang melarang taklid adalah sebagai berikut:Dan tidak halal bagi seseorang bahwa ia bertaklid pada seseorang,baik kepada yang hidup maupun kepada yang mati.(Masaail minal-Ushul).
Imam Ibnu Hazmin pernah berkata didalam syairnya:Larilah dari taklid,dia itu menyesatkan,orang yang taklid itu berada dijalan kehancuran.Kamu harus menolaknya didalam akal,jika ia kamu jadikan opini(pendapat) dalam beragama,maka akan menyesatkan dirimu.
Imam Abu Syamah seorang alim besar dan bekas guru Imam an-Nawawi menulis didalam kitabnya,antara lain demikian:Taklid kepada orang lain,selain Rasul-Rasul(Tuhan) itu haram.(al-Mu`ammal).
Perkataan para Imam tersebut,Kami rasa sudah cukup menunjukkan,bahwa taklid itu terlarang.Para Ulama Besar melarang keras orang bertaklid,alasan mereka mengecam keras orang bertaklid didalam agama adalah karena dalil-dalil yang terang baik dari Allah maupun dari Rasul-Nya.Yaitu dari Al-Qur`an dan As-Sunnah.
Demikianlah wasiat(pesan)dari ulama-ulama besar yang melarang taklid.Jadi teranglah buat kita dengan dikemukakan dalil dari Al-Qur`an maupun dari Hadits serta dirangkum lagi wasiat dari Sahabat Nabi saw dan Imam Empat,serta ditambah lagi dengan pernyataan ulama besar yang kesimpulan semua itu melarang kita bertaklid kepada siapapun kecuali Rasulullah saw.Maka dari itu hindarilah perbuatan taklid didalam agama Allah ini,karena perbuatan taklid akan menjerumuskan kita kedalam jurang kesesatan.Kami heran dengan orang-orang yang taklid buta kepada Imam empat,padahal Imam yang mereka takliddi saja melarang pengikutnya taklid kepadanya atau kepada siapun.Dan orang-orang pembela Taklid ada-ada saja alasannya untuk mempertahankan perbuatan Taklid nya itu,untuk itu kami akan mencoba untuk mengemukakan alasan-alasan pembela taklid setelah itu akan kami jelaskan kekeliruan mereka itu.
               “Dalil yang biasanya digunakan oleh para Muqallidin(ahli taklid)”
Oleh karena pada masa belakangan ini,yakni sesudah abad ke-5 hijrah keatas hingga sekarang ini,para ahli taklid mengharuskan orang-orang bertaklid kepada Imam empat(Abu Hanifah,Maliki,Syafi`I,dan Hanbali)atau kepada Ulama lain.Mereka selalu menggunakan dalil-dalil yang menguatkan pendiriannya,untuk itu akan kami coba untuk mengemukan dalil-dali yang menjadi rujukan ahli taklid,setelah itu akan kami jelaskan kekeliruan mereka.
1.Maka hendaklah kamu bertanya kepada orang-orang yang ahli dalam pengetahuan,jika kamu tidak mengerti.(QS.an-Nahl:43).
Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang tidak mengerti supaya bertanya kepada orang yang mengerti.Kalau sudah bertanya dan telah menerima jawaban dari orang yang ditanya,maka orang yang bertanya harus menerima.Kalau sudah menerima jawaban dari pertanyaannya berarti Taklid.
2.Tidaklah mereka bertanya ketika mereka tidak mengerti,karena sesungguhnya obat kebodohan itu ialah bertanya.
Hadits ini menunjukkan,bahwa Nabi saw.Memerintahkan supaya orang bertanya tentang sesuatu yang ia tidak mengerti.Sesudah orang bertanya itu mendapat jawaban haruslah meneriam.Harus menerima itu harus taklid.
3.Barang siapa bertaklid kepada orang alim,ia menghadap Allah dengan selamat.
Jadi hadits ini menunjukkan barang siapa bertaklid kepada orang alim(ulama)maka ia akan menghadap Allah dengan selamat.
4.Dan telah sepakat ulama atas keharusan taklid.
Jadi para muqallidin(ahli taklid) mengatakan ada kesepakatan ulama yang mengharuskan Taklid.
5.Dan tidak boleh taklid kepada selain mereka(Imam Mazhab)yang empat daripada lain-lain ulama mujtahid didalam urusan furu,Walaupun mereka itu adalah sahabat besar,karena mazhab-mazhab mereka itu tidak dihimpunkan dan tidak dipelihara.
Dan ada lagi alas an yang digunakan ahli taklid untuk menguatkan perbuatan taklidnya.
Dan tidak boleh taklid kepada yang lain,selain mazhab-mazhab imam yang empat,walaupun sesuai dengan perkataan sahabat dan sesuai dengan hadis sahih dan ayat al-Qur`an.Maka orang yang keluar dari mazhab-mazhab imam empat itu,ia sesat serta menyesatkan,dan kadang-kadang yang demikian itu mendatangkan kekufuran.Karena sesungguhnya,mengambil dalil hanya dengan lainnya ayat kitab(Qur`an) dan sunnah(hadis),adalah satu dari pokok-pokok kekufuran.
Itulah alasan-alasan dari para muqallidin(ahli taklid)untuk menguatkan perbuatan taklid nya itu.Untuk itu akan saya jelaskan kekeliruan mereka dalam mengambil dalil.
                             “Bantahan terhadap kekeliruan mereka”
1.Bantahan ke-1 tentang ayat  43 didalam surat an-Nahl yang mereka gunakan untuk menguatkan perbuatan taklid mereka:Maksud ayat ini telah kami uraikan diatas.Ayat ini jelas memerintahkan supaya orang yang tidak mengerti supaya bertanya kepada orang yang mengerti.
Orang yang disuruh bertanya bukan berarti disuruh taklid,tetapi disuruh meminta keterangan yang jelas dari Al-Qur`an atau dari as-Sunnah.Karena ditilik dari hubungan ayat ini pada sebelumnya dan sesudahnya,bertalian erat dengan urusan wahyu dan al-Qur`an.Oleh sebab itu janganlah salah mengartikan terhadap ayat ini.
2.Bantahan ke-2 tentang tentang hadis yang memerintahkan hendaklah bertanya ketika mereka tidak mengerti karena sesungguhnya obat kebodohan itu adalah bertanya.Agar jelas duduk perkaranya yang menyebabkan Nabi Muhammad saw bersabda sebagaimana yang tersebut itu adalah:Kata Sahabat Jabir r.a.Kami keluar dalam satu peperangan,maka seseorang diantara kami,ada yang kejatuhan batu,maka luka parahlah kepalanya,kemudian dikala tidur ia mimpi(berjanabat),maka ia bertanya kepada kawan-kawannya:Apakah kamu mendapat keringanan buat saya bertayamum(saya tidak usah mandi)?.Maka mereka berkata:Kami tidak mendapat buat bertayamum,selama engkau dapat menggunakan air untuk  mandi.Kemudian ia mandi,lantas mati.Kemudian setelah kami datang kepada Rasulullah saw,diberitahukanlah kepada beliau tentang peristiwa itu.Maka beliau bersabda:
“Mereka membunuh dia,mudah-mudahan Allah membunuh mereka.Mengapakah mereka tidak bertanya,jika mereka tidak mengerti,karena sesungguhnya obat kebodohan itu ialah bertanya.(HR.Ahmad,Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Dalam riwayat ini terdapat keterangan,bahwa mereka memberikan fatwa tentang urusan agama dengan pikiran mereka sendiri,yang menyebabkan orang yang menerima fatwa tadi tewas,dengan demikian mereka bersalah besar,sampai Nabi saw mendoakan mereka supaya tewas juga.Dan dari kesalahan merka itu,maka Nabi saw member teguran mengapa mereka tidak bertanya,jika mereka tidak mengerti.
Dengan hadits ini jelaslah bahwa hadis ini tidaklah berarti menyuruh orang supaya bertaklid,tetapi menyuruh orang supaya bertanya kepada orang yang mengerti,dengan meminta keterangan dari al-Qur`an dan as-Sunnah.Jadi janganlah kita salah mendudukkan dalam mengartikan hadis ini.
3.Bantahan ke-3 tentang hadits barang siapa yang bertaklid kepada seorang alim,maka ia akan menghadap Allah dengan selamat.
Kata-kata ini bukanlah hadits Nabi saw,melainkan hadits ini adalah hadis palsu,hadits bikinan orang yang membela adanya taklid didalam agama.Sebab hadits ini tidak termaktub sama sekali didalam kitab-kitab hadis yang muktabar seperti Bukkhari,Muslim,Abu Dawud,Turmudzi,an-Nasai dan Ibnu Majah.Dan kami juga telah memeriksa didalam Musnad Ahmad,Sahih ad-Darimi dan sahih Ibnu Khuzaimah tetapi juga tidak ada hadits tersebut termaktub didalam kitab hadits yang telah kami sebutkan diatas.Maka tidak diragukan lagi bahwasanya hadits ini adalah hadits Maudhu(palsu)yang sama sekali tidak boleh dijadikan hujah(alasan)untuk menguatkan taklid didalam agama.
Dan perlu kami tanyakan lagi kepada pembela Taklid tentang mereka mengatakan kata-kata itu sebagai hadits Nabi saw.
Siapakah yang meriwayatkan hadis itu?
Siapa-siapa diantara para Imam ahli hadits yang meriwayatkan hadits itu?
Bagaimana Isnad-nya?
Sah kah hadits itu dari Nabi saw?
Siapa yang mensahkan hadis itu?
Termaktub didalam kitab hadis apa?
Sekedar renungan dari kami:Andai kata Nabi saw,pernah bersabda yang sedemikian itu,niscaya pernah diriwayatkan oleh para Imam ahli hadis yang terkenal dan oleh ulama mujtahid yang terkemuka,dan coba kita perhatika kembali: Al-Qur`an,Hadits yang sahih,para Sahabat Nabi saw,Imam  empat,dan ulama besar.Dari kesimpulan semua itu telah melarang perbuatan Taklid didalam agama.Masih pantaskah kita mengatakan hadits tersebut berasal dari Nabi saw?Maka dari itu tertolak lah hadits itu.Dan tidak boleh dijadikan hujah(alasan)untuk menguatkan bolehnya bertaklid didalam agama kepada orang alim.
Dikarenakan rasa kebencian kami terhadap yang membuat hadits itu dengan karena kedustaannya yang mengatakan hadits itu dari Nabi saw,maka akan kami hadapkan kepadanya sebuah hadits sahih dari Nabi saw yang berbunyi:
Telah berkata Mughierah bin Syu`bah r.a.:Bahwa Rasulullah saw bersabda:Sesungguhnya berdusta atas namaku itu,tidak sama dengan berdusta atas nama seseorang.Maka barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja,maka hendaklah ia bersedia tempat duduk nya dineraka.(HR.Bukhari,Muslim dan Turmudzi).
4.Bantahan ke-4 tentang kesepakatan ulama yang mengharuskan Taklid.
Pemahaman ini jauh sekali dari kebenaran,karena sudah jelas buat kita Allah dan Rasulnya dengan tegas melarang perbuatan taklid didalam agama,kenapakah ulama berani me-ijmakkan tentang keharusan taklid,ini wajib kita tolak tentang pemikiran ulama yang bodoh dan berpemikiran beku seperti ini yang me-ijmakkan keharusan taklid.Cobalah kita fikirkan dan kita renungkan dalam-dalam dengan akal yang waras bukan dengan ikut-ikutan(taklid buta).Allah dan Rasulnya saja melarang perbuatan Taklid didalam agama,ditambah lagi dengan para Sahabat Nabi saw.Dan Imam Empat yang mereka takliddi saja melarang keras pengikutnya agar tidak taklid kepada merka(Imam empat) maupun kepada orang lain,serta ulama besar pun melarang taklid didalam agama!Kenapakah kita berani me- ijmakkan keharusan taklid sesuatu yang dilarang oeh Allah dan Rasulnya?
Imam Ibnu Abdil-Barr,seorang alim besar ahli usul dan ahli hadits yang hidup pertengahan abad ke-5 hijrah yang ia mengatakan:Tidak ada perselisihan lagi diantara para Imam disegenap Negara,tentang kerusakan(tidak sah)nya taklid.
Jadi teranglah buat kita bahwa tidak boleh taklid didalam agama.Pemikiran-pemikiran sesat seperti itu wajib ditolak dan diabaikan.
5.Bantahan ke-5 tentang  tidak boleh taklid kepada selain Imam Empat.
Ini adalah kebodohan dari pemahamaan mereka,mereka mengatakan tidak boleh taklid kepada selain Imam Empat.Kalau kita kembali membaca wasiat dari Imam Empat yaitu:Hanafi,Maliki,Syafi`I dan Hanbali tidak ada satupun dari wasiat mereka itu agar pengikut nya boleh bertaklid kepada mereka dan kepada orang lain.
Jadi rangkaian kata diatas bukanlah dari ayat,bukan dari hadits,bukan dari sahabat Nabi saw dan bukan pula dari Imam Empat(Hanafi,Maliki,Syafi`I dan Hanbali) yang masyhur itu.Perkataan itu telah jelas bertentangan dengan al-Qur`an dan Hadis Nabi saw,serta dari perkataan Sahabat Nabi saw dan ditambah dengan perkataan Imam Empat yakni Hanafi,Maliki,Syafi`I dan Hanbali,dan juga bertentangan dengan perkataan Ulama-ulama besar yang melarang perbuatan taklid didalam agama.Cobalah kita pikir dalam-dalam kenapa kita berani mengatakan harus taklid kepada Imam empat(Hanafi,Maliki,Syafi`I dan Hanbali)sedangkan Allah dan Rasulnya saja melarang taklid didalam agama.Dan Sahabat Nabi saw pun melarang perbuatan Taklid didalam  agama,Imam yang mereka takliddi saja melarang keras agar pengikutnya agar tidak bertaklid kepada mereka dan kepada orang lain.Maka tidak selayaknya kita untuk ber taklid kepada imam empat,karena merekapun melarang keras perbuatan taklid tersebut,hanya orang-orang yang bodoh dan berhati beku saja yang mengatakan wajib taklid kepada imam empat.Kepada ahli taklid yang mewajibkan bertaklid kepada imam empat,cobalah baca ulang kitab-kitab yang dikarang oleh imam empat,diantara kitab itu adalah kitab al-Umm karangan imam Syafi`I,di kitab itu dengan tegas imam Syafi`I melarang keras perbuatan taklid,begitu juga didalam kitab-kitab imam yang lainnya nya,yang inti nya mereka melarang keras taklid didalam agama.Jadi teranglah buat kita kelemahan-kelemahan para ahli taklid yang mengharuskan taklid kepada Imam empat(Hanafi,Maliki,Syafi`I dan Hanbali).Maka dari itu janganlah kita bertaklid atau ikut-ikutan  saja kepada orang lain,hendaknya kita meminta keterangan  dari al-Qur`an dan as-Sunnah tentang perbuatan-nya itu,agar kita terhindar dari perbuatan taklid yang dilarang oleh Allah dan Rasul Nya,yang konsekuensi dari perbuatan taklid itu sendiri dapat menyebabkan terjerumusnya kita kedalam jurang kesesatan .
Untuk menambah keterangan dari ulama yang mereka melarang keras perbuatan taklid didalam agama,kami akan memaparkan tulisan dari seorang alim besar ahli hadits dan ahli ushul pada abad ke-12 hijrah yakni Imam Syaukani didalam kitabnya dan beliau menulis didalam kitabnya adalah sebagai berikut:
“Saya sudah menyebutkan nas-nas imam yang yang terang-terangan melarang orang bertaklid,sebab itu tidak perlu saya memperpanjangkan lagi keterangannya.Dengan ini dapatlah kita ketahui bahwa larangan bertaklid itu walaupun tidak ijmak,tetapi itulah mazhab jumhurul-ulama(sebagian besar para ulama).Dan tentang ini dikuatkan pula oleh ijmak ulama  yang mengatakan`tidak harus bertaklid kepada orang yang sudah mati.
Dan dilain baris beliau menulis:
Dan yang lebih ajaib dari itu,sebagian ulama mutaakhirin(yakni datang belakangan) ini,yang mengarang kitab-kitab ushul fikih,sudah membangsakan perkataan”wajib bertaklid bagi orang awam”dengan mengambil hujah ijmak dari imam-imam Mazhab atas kebolehan orang bertaklid.Kalau yang dimaksudkan oleh mereka itu”Ijmak ulama yang hidup dimasa sebaik-baik abad”(kurun pertama dalam islam),kemudian diabad yang menggiringnya,maka pendakwaan itu adalah pendakwaan yang batal(tidak benar)karena pada ketiga abad(dalam islam) itu,tidaklah ada taklid;bahkan mereka(para ulama dikala itu)belum ada yang mendengar atau mengenal taklid sedikitpun.Orang-orang yang kurang ilmu diantara mereka pada ketiga abad tadi,sama bertanya kepada orang yang alim tentang masalah-masalah yang baru terjadi dan yang baru sampai kepada mereka,kemudian si alim tadi memberikan fatwanya dengan alasan yang yang telah diketahuinya dari kitab Allah dan Sunnah Rasul.(al-Qaulul-Mufid dan Irsyadul-Fuhul).
Kemudian dilain baris beliau menulis:Kalau maksud mereka mengatakan ijmak atas keharusan taklid dan ijmak para imam yang berempat,maka kitapun telah mengetahui,bahwa mereka sendiri melarang keras orang bertaklid,dan selalu ada pada masa mereka itu orang yang mengingkari bertaklid.Kalau maksud ijmak ulama yang datang dibelakang mereka,maka tiap-tiap orang yang berpengetahuan tentang perkataan-perkataan para ahli ilmu dimasa itu sudah mengetahui,bahwa sejak waktu itu sudah didapati para ulama yang mengingkari bertaklid.Dan kitapun telah mengetahui dari keterangan-keterangan yang telah disebutkan dimuka,bahwa melarang taklid itu adalah perkataan-perkataan sebagian besar para ulama,kalau belum dapat dikatakan ijmak.Dan kalau yang dimaksudkan dengan kata ijmak tadi,ialah ijmak ulama yang bertaklid kepada imam-imam yang berempat itu,maka kitapun telah telah mengetahui dalam keterangan-keterangan yang sudah diuraikan dimuka,bahwa tidaklah dipandang boleh diturut perkataan orang yang bertaklid dalam suatu apapun,apalagi akan melangsungkan ijmak dengan mereka itu.(Irsyadul-Fuhul).
Selanjutnya beliau menulis:Singkatnya,orang yang membolehkan bertaklid itu,apalagi orang yang mewajibkannya,tidaklah ada yang dapat mendatangkan suatu hujah (alasan) yang kuat,yang patut dipergunakan untuk mempertahankannya.Kita tidak diperintahkan Allah mengembalikan syariat-syariat (agama) Nya kepada pikiran orang,tetapi kita diperintahkan dengan firman-Nya:
Jika kamu berbantah-bantahan pada sesuatu,maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.(QS.an-Nisa:59).
Yakni dikembalikan kepada kitab Allah (Al-Qur`an) dan Sunnah Rasul-Nya.(Irsyadul-Fuhul).
Demikianlah diantara uraian Imam as-Syaukani dalam kitabnya Irsyadul-Fuhul yang mengenai larangan bertaklid.
Kepada para ahli taklid buta kepada Imam Syafi`I cobalah membaca kitab karangan Imam Syafi`I yang berjudul al-Umm agar kita jelas duduk perkaranya apa arti taklid itu?Apakah Imam Syafi`I membenarkan taklid didalam agama baik mentaklidi  diri beliau ataupun ber taklid kepada ulama lain?.
Penutup:
“Wasiat Imam Syafi`I Tentang Larangan Taklid’
Untuk menambah keterangan akan kami paparkan wasiat dari Imam Syafi`I yang kami kutip dari kitab beliau yaitu al-Umm,yang intinya beliau melarang keras orang bertaklid kepada beliau dan kepada imam-imam lainnya.Diantara pesan dan wasiat beliau adalah seperti yang kami kutip dibawah ini:
1.Imam Syafi`I berkata:Tidak ada perkataan bagi seseorang beserta Sunnah Rasulullah saw.
Yakni;Tidak boleh diterima perkataan seseorang,jika ternyata perkataan itu bertentangan dengan perkataan Rasulullah saw,
2.Imam Syafi`I berkata:Manusia telah sepakat,bahwa barang siapa telah nyata baginya sesuatu sunnah dari Rasulullah saw,tidaklah seharusnya ia meninggalkannya,karena perkataan seseorang dari manusia.
Yakni telah sepakat (ijmak) segenap ummat Islam,bahwa barang siapa yang baginya telah mengetahui satu sunnah yang nyata dari Rasulullah saw,maka tidak seharusnya ia meninggalkan sunnah itu,karena akan mengikuti perkataan seseorang.
3.Imam Syafi`I berkata:Apabila kamu dapati dalam ktabku,perkataan yang menyalahi Sunnah Rasulullah saw,maka hendaklah kamu  berkata dengan Sunnah Rasulullah saw,lalu tinggalkanlah perkataanku.
4.Imam Syafi`I berkata:Apabila kamu mendapati satu Sunnah Rasulullah saw,maka hendaklah kamu mengikutinya,dan janganlah kamu berpaling kepada perkataan seseorang.
5.Imam Syafi`I berkata:Janganlah kamu meninggalkan satu hadits Rasulullah saw,selama-lamanya,kecuali jika datang satu hadits lain dari Rasulullah saw yang menyalahkannya.
6.Imam al-Baihaqi pernah meriwyatkan :Pada suatu hari ada seorang lelaki berkata kepada Imam Syafi`I,dan ia meriwayatkan satu hadits,lalu ia berkata kepada Imam Syafi`I;Apakah engkau mengambil hadits ini?Dikala itu Imam Syafi`I berkata:Bila telah diriwayatkan orang kepadaku satu hadits sahih dari Rasulullah saw,lalu saya tidak mengambil hadits itu,maka aku nyatakan kepadamu bahwa akalku sudah lenyap.
6.Imam Syafi`I berkata:Apabila telah mendapati satu Sunnah Muhammad Rasulullah saw,Menyalahi perkataanku,maka sesungguhnya aku berkata dengannya.
7.Imam  Syafi`I berkata:Apabila hadits sahih menyalahi perkataanku,maka lemparkanlah perkataanku kebelakang dinding,dan berbuatlah kamu dengan hadits yang kokoh kuat.
8.Imam Syafi`I berkata:Tiap-tiap hadits dari Rasulullah saw,maka dia perkataanku,walaupun kamu tidak mendengarnya dari aku.
9.Imam Syafi`I berkata:Apabila hadits telah sah,maka itulah madzhab ku.
10.Imam Syafi`I berkata:Apabila telah sah Khabar(Hadits) yang menyalahi perkataanku,maka hendaklah kamu mengikuti khabar itu,dan ketahuilah oleh-mu,bahwa sesungguhnya itulah madzhabku.
11.Imam Syafi`I berkata:Sesuatu yang dating dari Sunnah Rasulullah saw,dengan menyalahi Madzhabku,maka tinggalkanlah madzhabku,karena sesungguhnya yang demikian itulah madhabku.
12.Imam ar-Rabipernah berkata:Aku mendengar Imam Syafi`I berkata:Tiap-tiap masalah yang pernah saya bicarakan,padahal sah khabar (hadits) tentang masalah itu dari Nabi saw.Disisi ahli riwayat dengan menyalahi apa yang telah saya katakan,maka saya akan kembali kepadanya,baik dikala saya masih hidup maupun sesudah mati.
12.Imam Syafi`I berkata:Tiap-iap sesuatu yang menyalahi perintah Rasulullah saw.Jatuhlah ia,dan tidak akan tegak besertanya sesuatu pendapat,dan tidak pula suatu kias.
13.Imam Syafi`I berkata:Hadits Rasulullah saw.Itu mencukupi dengan sendirinya,jika telah sah.
14.Imam Syafi`I berkata:Dari kesempurnaan Iman seseorang,bahwa ia tidak membahas (membicarakan) lagi tentang ushul,dan tidak berkata”mengapa”dan bagaimana”Lalu beliau ditanya orang:Apa yang dinamakan ushul itu?Mka beliau berkata:Al-Kitab dan As-Sunnah.
15.Imam Syafi`I berkata:Mengambil (menerima) ushul itu dari perbuatan orang yang berakal,dan tidak seharusnya dipertanyakan tentang sesuatu dari ushul itu,dengan”Apa yang dinamakan ushul?”Beliau berkata:Al-Kitab dan As-Sunnah.
16.Imam Syafi`I berkata:Kami tidak akan meninggalkan hadits dari Rasulullah saw.Karena akan memasukkannya pada kias,dan tidak ada tempat bagi kias beserta sunnah.
17.Imam Syafi`I berkata:Pada setiap sesuatu yang didalamnya ada nas kitab,dikatakan:Ini hukum Allah di dalam kitab-Nya;dan disetiap sesuatu yang didalamnya ada nas Sunnah,dikatakan:Ini hukum Rasulullah saw,dan tidak boleh berkata  kias padanya.
18.Imam Syafi`I berkata kepada Imam Ahmad bin Hanbal yang lebih mengetahui hadits sahih dari  beliau,katanya:Apabila telah sah hadits disisi engkau,maka katakanlah olehmu kepadaku,agar aku pergi kepadanya.
19.Dan Imam Syafi`I juga berpesan kepada Imam Ahmad bin Hanbal,katanya:Engkau lebih mengetahui tentang hadits-hadits yang sahih dari kami,maka apabila ada satu hadits sahih,beritahukanlah olehmu kepadaku,agar aku pergi kepadanya,baik ke Kufah atau ke Basrah atau ke Syam.
20.Imam Ahmad bin Hanbal,salah seorang sahabat dan murid Imam Syafi`I sendiri dan salah seorang Imam ahli Hadits,katanya:Adalah sebagus-bagus tindakan Imam Syafi`I menurut pendapat saya,ialah apabila beliau mendengar sesuatu khabar (hadits) yang tidak ada padanya,maka beliau berkata dengan khabar itu,dan meninggalkan perkataanya.
Demikianlah wasiat dari Imam Syafi`I tentang larangan taklid didalam agama ini.Dan juga beliau dengan tegas mengatakan kepada kita,apabila perkataan atau perbuatan beliau yang menyalahi dari Al-Qur`an dan Hadis Rasul,maka beliau akan merujuknya baik disaat beliau masih hidup ataupun setelah beliau telah wafat.Semoga budi pekerti Imam Syafi`I yang baik ini,dicontoh oleh orang yang mengaku bermadzhab Imam Syafi`I ataupun orang yang bukan bermadzhab Imam Syafi`i.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar